Belas Kasih yang Tersisa

KAKEK RENTA berjalan tertatih, enggan meminta belas kasih, tak enggan berjalan walau letih, tak ada rintih dalam hidup yg perih. Berpeluh tanpa keluh, berpayah tak pernah resah. Dia memikul beban dengan berjalan, karena Tuhan memberi kekuatan kepada dia yang mau berjalan.

Dibelokan jalan, dia lenyap dari tatapan. Tapi jejak langkahnya berbekas di jalan penuh harapan. Orang kuat itu melintas dibawah panas, terkadang berjalan berguyur hujan, diterpa angin berselimut dingin. Banyak kepapaan yang bisa kita lihat, riuh rintihan yang bisa kita dengar. Tetapi sedikit saja yang mau melihat, lebih sedikit lagi yang mau mendengar. Jika Tuhan telah memberi rezeki, jangan pernah enggan kita berbagi.

Diantara kita, banyak yang memperoleh berlipat, dengan upaya yang sesaat, bahkan terkadang diatas jalan sesat. Tak jarang, kita beroleh kurang, walau telah panjang dalam berjuang. Banyak yang bertabur, tetapi sedikit dalam bersyukur. Ada yang merasa kurang, tetapi syukurnya tiada berbilang.

Sang kakek dalam renta, tak putus dalam upaya, menjual asa hidup dalam langkah tak kenal lelah. Walau bercucur peluh, tak terucap kata mengeluh. Dari pagi hingga petang kembali, tak lelah menyusuri hari.

Jika dia yang memikul beban berat pun tetap tersenyum, masihkah kita merintih hanya oleh beban ringan yang kita jingjing? Lihat, dia yang tertikam tombak pun tetap kokoh, masakah kita roboh karena tertusuk duri. Jika yang renta tak berharap iba, apakah yang muda masih saja meminta?


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s