Bola Sepakbola di Tangan Presiden

PRESIDEN PSSI PERSIB di Oktober ini ada dalam momentum yang begitu dekatnya dengan harapan rekonsiliasi, untuk menyatukan persepakbolaan kita yang pecah dan terbelah. Ketika April 2015 pemerintah c.q Kemenpora melakukan ‘kudeta damai‘ terhadap PSSI, publik sepakbola ketika itu, sebagian menaruh harapan bagi perubahan sepakbola yang lebih baik. Bahkan hingga FIFA kemudian menghukum kita, ekspektasi publik masih kuat bagi sebuah reformasi sepakbola kita.

Kini satu semester telah, ekspektasi menjadi sebuah tanda tanya. Pasca ‘kudeta damai’, kubu yang terbelah tetap mengambil jarak. Jarak yang dibuat, rumornya, akibat warna politik yang berbeda. Dus, kentalnya ego kedua kubu, membuat jarak kian melebar. Titik temu pun bergerak menjauh.

Hingga kemudian pemerintah menggulirkan turnamen sepakbola Piala Presiden, yang berujung pada final di GBK Jakarta. Antusiasme publik yang sangat meriuhkan turnamen ini, puluhan ribu suporter yang menyesakan laga final, dan ratusan ribu bobotoh yang show of force dalam lautan biru saat pesta juara di Bandung, harus dilihat sebagai sebuah keinginan yang sangat, kembalinya sepakbola kita secara normal dan utuh.

Melihat begitu kuatnya para fihak sepakbola berseteru face to face, kini harapan publik tak salah jika dialamatkan kepada figur Presiden, yang hadir menyaksikan laga final di GBK. Presiden yang nota bene atasan Menpora, tentu sangat mudah menyatukan kedua kubu yang berseberangan.

Kini, bola untuk merekonsiliasi persepakbolaan nasional ada di tangan Presiden. Sulit berharap agar Kemenpora dan PSSI saling legowo. Presiden dengan satu perintah, tentu dapat melakukan hal yang tidak mau dilakukan kubu yang berselisih. Tentu perintah yang win win solution, yang tidak menyalahkan atau mengalahkan masing masing kubu.

Harapan kepada Presiden, berangkat dari kenyataan begitu carenya Presiden terhadap persepakbolaan kita, seperti apa yang dinyatakan Presiden ketika menyaksikan begitu antusiasnya masyarakat terhadap laga final Piala Presiden. Kita sedang berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan kisruh sepakbola. Event Asian Games sesaat lagi dimana kita sebagai tuan rumah. Situasi persepakbolaan kita, tentu tidak bisa berlama seperti ini. Kisruh harus berakhir dan diakhiri. Political will yang win win solution harus segera dibuat Presiden  untuk merekonstruksi sepakbola Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s