Ujaran Kebencian di Media Sosial

Media sosial telah menjadi fenomena yang menggejala dan menjelalah, menjadikan dunia tanpa batas. Tanpa berbicara, media sosial lebih bersuara dan menggema untuk didengar, melampaui jendela dunia maya, serta melintas pintu dunia nyata. Kebebasan dan keterbukaan, menjadi ruang yang terkadang tak lagi bersekat.

Media sosial telah menjadi etalase hidup, yang bisa menjadi ruang kaca yang menelanjangi kita. Ada, apa yang harus kita berbicara tentu dengan bagaimana, bukan dengan segala apa adanya. Ada yang bisa dilihat, dan tetap ada yang harus disekat. Ada yang bisa kita cari, ada yang harus kita sembunyi. Tidak segala yang ada kita buka, karena selaksa mata membuka dan membaca. Tidak segala yang diberi, harus kita bagi.

Banyak dan riuhnya postingan berita, kata kata dan meme di media sosial, memunculkan respons dan penyikapan beragam di publik. Dan temuan fakta, kerap postingan memunculkan kegaduhan yang berujung konflik di publik. Menyikapi fenomena ini, perlu tata kelola untuk memonitor dan mengontrol arus lalu lintas postingan media sosial. Untuk itu, terkini, Polri menerbitkan surat edaran bagi internal kepolisian, yang seperti juklak, untuk membidik postingan yang berindikasi ujaran kebencian, yang bisa berpotensi memunculkan kegaduhan dan konflik di masyarakat.

Monitoring dan kontroling postingan di media sosial, memang diperlukan walau harus seperlunya. Munculnya surat edaran ini, mungkin akan menimbulkan perdebatan pro dan kontra. Hal yang wajar, malah diperlukan untuk input bagi kepolisian dalam pelaksanaan di lapangan.

Domain kepolisian tentu, dalam menciptakan ketertiban dan kenyamanan publik. Tetapi pada sisi lain, penerbitan surat edaran ini dan pelaksanaannya, akan dibenturkan dengan dalih argumen atas nana kebebasan dan demokrasi. Ujaran kebencian, memang bisa sangat multi tafsir, terkadang sangat subyektif untuk mendefinisikannya.

Terlepas dari nantinya muncul perdebatan pro dan kontra, kita memang membutuhkan ada tata kelola yang intens terhadap lalu lintas postingan media sosial. Karena walau kita telah memiliki perundangan, yang menjadi acuan dalam membidik ujaran kebencian di media sosial, faktanya terkesan ada pembiaran, sehingga postingan yang berpotensi menuai kegaduhan, permusuhan, kebencian dan konflik, begitu subur dan mudah kita baca di media sosial.

Harapan kita, surat edaran yang akan membuat kepolisian lebih intens dan terlibat langsung dalam memonitor postingan media sosial, sebagai upaya preventif untuk mencegah munculnya postingan ujaran kebencian. Bukan untuk menakutnakuti atau membunuh kreativitas dan suara user media sosial.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s