Fenomena Da’i Selebriti

Kemunculan da’i yang meramaikan dakwah Islam di media televisi tanah air, beberapa tahun kebelakang, seiring menjamurnya stasiun televisi swasta, menjadi fenomena yang menggejala. Dengan serta merta, mereka pun menjelma menjadi publik figur, yang juga notabene menjalani hidup sebagai selebriti. Sebagai da’i yang selebriti, tentu rekam jejak hidupnya lebih menjadi atensi umat.

Maraknya kemunculan banyak da’i, tentu sangat positif bagi pencerahan hidup umat, ditengah pertempuran arus kehidupan dengan segala pertentangan dua sisinya. Dengan trade marknya masing masing, da’i selebriti, selain memberi pencerahan hidup, pula menghibur ditengah kejenuhan dan kepenatan kehidupan. Tetapi, tak juga kita menutup kekhawatiran, da’i yang juga manusia, tetap memiliki keterbatasan sebagai manusia.

Apa yang terjadi dan dialami, dalam kehidupan da’i yang selebriti, tentu akan menjadi pemberitaan umat. Hal yang positif, tentu menjadi lumrah dan sebuah keharusan dalam persepsi umat. Lain tentu, bila itu peristiwa negatif, menjadi sebuah keprihatinan mendalam. Selama ini, umat telah memperoleh pelajaran dari dua sisi tersebut, hal yang pernah dialami dijalan hidup da’i yang selebriti.

Sebagai nara sumber ilmu Islam dalam berdakwah, kita pun sangat berharap, da’i tidak boleh pragmatis hanya karena agar bisa diterima dan ‘diundang’ oleh banyak kalangan. Apalagi berdakwah agar banyak orang senang dan tidak meradang, tetapi dengan menafikan hukum dan kebenaran Islam. Karena jika ini terjadi, sangat berpotensi menimbulkan perdebatan dan polemik di umat. Apalagi kini, kita hidup pada lingkungan zaman yang familiar dengan teknologi informasi komunikasi. Sehingga apa pun yang ditutur atau dilakukan para da’i, up to date diterima umat.

Dakwah perlu ketegasan dalam menyampaikan kebenaran, tidak boleh disamarkan dengan abu abu. Perlu keeleganan dalam mensiasati materi dakwah, agar tetap tepat sasaran, tanpa melukakan. Tapi bukan harus dengan mengorbankan dan menafikan kebenaran ayat ayat Qur’an.

Islam melihat kebenaran dari sisi Allah, karena kebenaran Allah adalah absolut. Bukan kebenaran dari olah pikir manusia yang relatif dan subyektif. Bukankah bila kita wafat, akan menghadap kepada Allah. Tidak dan bukan menghadap kepada manusia.

Sampaikan kebenaran walau pun hanya satu ayat, dan sekali pun terasa pahit. Jika tak sanggup tajam berbicara, tentu jangan menumpulkan kebenaran. Lebih baik diam tapi membawa maslahat, daripada berbicara memunculkan mudlarat di umat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s