VONIS MATI “ANAK DIBAWAH UMUR”

Paradigma hukuman kepada anak-anak dibawah umur, sangat harus direvisi, karena sudah ketinggalan zaman. Sudah tidak pada tempatnya lagi, melindungi dan membela kejahatan yang dilakukan orang dibawah umur, dengan vonis ‘mendidik’ yang ringan. Padahal kejahatannya biadab dan sadis.

Remaja ABG yang mau dan sanggup memperkosa juga membunuh, tidak bisa dikatagorikan anak dibawah umur. Anak dibawah umur hanya untuk anak usia TK, yang tidak mungkin memperkosa dan membunuh.

Remaja yang sudah biasa mabuk lalu memperkosa membunuh, sudah faham seksual, sudah bukan lagi dibawah umur, walau usianya belum 18 tahun. Jadi perlakuan hukumnya ya harus seperti orang dewasa, layak dihukum mati juga.

Abaikanlah soal HAM dengan dalih masih dibawah umur. HAM ditujukan untuk manusia yang juga menghargai HAM. Indonesia tidak membutuhkan remaja pemabuk pemerkosa atau pembunuh.

Indonesia tidak akan pailit, jika menghukum mati para remaja pelaku kejahatan yang biadab. Masih banyak jutaan remaja yang benar dan sehat adabnya, untuk masa depan bangsa.

Dalil hukum yang menghukum anak dibawah umur, dengan vonis ‘mendidik’ dan ringan, padahal kejahatannya berat dan biadab, hanya akan jadi preseden dan memicu anak dibawah umur lainnya, untuk tidak takut berbuat kriminal, seperti merasa dilindungi karena hukumannya akan ringan dan ‘mendidik’.

Kasus tewasnya pelajar Yuyun di Bengkulu, harus menyadarkan kita, untuk merevisi dalil hukum bagi pelaku kriminal dibawah umur, yang melakukan kriminal sadis biadab, harus juga bisa dituntut hukuman maksimal, vonis mati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s