AJARAN NABI ISA DAN ISLAM

Beberapa ritual ibadah yang khas diperbuat oleh umat Islam, tetapi tidak dilakukan oleh umat lain, ternyata dilakukan oleh dan terjadi semasa hidup Nabi Isa a.s bin Maryam.

Khitan kulit kelamin bagi lelaki muslim, begitu familiar dan mendunia, dilakukan Muslimin bukan karena faktor medis semata. Tetapi karena memang keharusan dan syariat Islam. Khitan ini pun dialami oleh Nabi Isa a.s bin Maryam, saat berusia 8 hari (Injil Lukas 2:21). Uniknya, khitan/sunat ini kemudian menjadi syariat keagamaan oleh Islam saja.

Ritual doa dan kurban sembelihan hanya karena Allah, untuk seorang bayi yang baru beberapa hari dilahirkan, dilakukan oleh keluarga muslim jika mampu. Dikenal sebagai aqiqah dengan menyembelih hewan kambing. Dan Nabi Isa a.s bin Maryam saat bayi pun demikian, pada usia 40 hari melakukan ritual pentahiran, dengan mengurbankan 2 ekor burung (Injil Lukas 2:22-24).

Ibadah puasa berturut turut sebulan penuh oleh umat Islam, begitu familiar dan menjadi salah satu ikon ibadah agama Islam. Dan Nabi Isa a.s bin Maryam pernah berpuasa berturut tutut, yaitu selama 40 hari. Ketika itu bertepatan, saat beliau diuji dan digoda oleh iblis (Injil Matius 4:2).

Sholat yang merupakan ibadah doa, dan diantara gerakannya dengan bersujud kepada Allah, adalah kewajiban utama bagi setiap Muslim. Dan Nabi Isa a.s pernah juga, bersujud dan berdoa kepada Allah yang maha esa. Saat itu, Nabi Isa a.s berdoa dengan sungguh sungguh, penuh rasa takut hingga bercucuran keringat. Beliau berdoa memohon pertolongan kepada Allah Bapa (Matius 36:39).

Ketauhidan atau mengimani bahwa Tuhan itu maha esa, adalah esensi keimanan Islam yang sangat fundamental. Ini sangat pararel, dengan ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s kepada umat beliau.

Nabi Isa a.s berdoa kepada Allah Bapa, “Hidup yang kekal adalah bahwa manusia mengenal Engkau, satu satunya Allah yang benar. Dan mengenal aku yang telah diutus oleh Engkau.” (Injil Yohanes 17:3).

Dan ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s sangat kental, saat beliau bersabda kepada para muridnya, “Jangan sentuh aku, sebab aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada para saudaraku, dan katakan kepada mereka, bahwa sekarang aku akan pergi kepada Bapak aku yang juga bapak kamu. Yaitu Allah aku yang juga Allah kamu.” (Injil Yohanes 20:17).

Dan saat Nabi Isa a.s ‘wafat’, beliau dibungkus dengan kain kafan putih, oleh murid beliau, Yusuf Aritmatea (Injil Matius 27:59). Dan cara ini menjadi syariat Islam dalam prosesi pemakaman seorang muslim yang wafat. Dan tidak menjadi syariat keagamaan selain oleh Islam.

Dalam Islam, mengimani bahwa Isa a.s bin Maryam adalah Nabi juga Rosul, yang diutus ke dunia oleh Allah yang maha esa, adalah salah satu syarat mutlak keimanan. Islam sangat memuliakan Isa a.s seperti juga memuliakan Sulaiman bin Daud, Daud bin Isai atau Luth yang berdakwah di Sodom Gomora. Yaitu memuliakan dan mengimani sebagai manusia yang diutus ke dunia oleh Allah.
® Cigasong Majalengka

Iklan