KONSER MUSIK KEHIDUPAN

KONSER MUSIK KEHIDUPAN

Irama orkestra agresi kemaksiatan tengah dikonserkan oleh manusia dipentas dunia. Sebagian penonton dunia bertepuk tangan menikmati musik kemaksiatan. Di panggung orkesta, dosa mengalir dari anak anak manusia.

Sebagian penonton terpingkal hanyut oleh tawa. Ada pula jeritan enggan dan amarah. Tetapi, ada pula penonton yang memalingkan wajah tanpa ekspresi.

Ya, agresi kemaksiatan yang melenakan banyak manusia, tidak (mungkin) dapat dihentikan. Syetan dan sekutunya, sang dirigen kian semangat menggerakan tongkat simponi godaannya.

Sementara nada nada petuah religi, belum juga membangunkan pendosa dari mimpi kemaksiatan. Padahal bunyi musik kematian, begitu dekat dengan gendang telinga kita. Tinggal sepenggal saja, bait lagu tersisa diakhir waktu.

Lagu dunia menghanyutkan kita untuk lupa dan melupakan. Denting not not kebenaran bak lagu sumbang yang enggan kita dengar. Musik kemaksiatan begitu merdu didengar, membuat sebagian kita terlena dalan tarian dosa.

Semoga, telinga kita masih tajam dan jernih untuk mendengar pesan nada religi. Mata kita masih awas dan tajam untuk membaca not not kebenaranNYA. Hingga kita tetap selalu mengaransemen lagu kehidupan kita agar lebih baik.

Ingat, ‘aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat’. Segera ‘Taubat’, agar kita menuju ‘Surga’. ‘Bila saatnya tiba’ kita tak akan lagi kembali. Bahwa ‘dunia panggung sandiwara’ yang sekali dan sesaat.
* Rachmat Cigasong Majalengka

Iklan