AIR MATA, MATA AIR KEHIDUPAN

Tak melulu kita menatap keatas, karena kita pasti selalu ingin melangkah naik. Tataplah tentang kehidupan dibawah, karena begitu banyak makna dalam goresan kata kehidupan.

Banyak kita yang bahkan tak lagi memiliki tempat, untuk menyimpan berlebihnya kebahagiaan. Disana, ada bahkan belum berolehnya walau telah berlari mencari.

Bocah luar biasa, yang bahkan kita tak sanggup memikul beban kehidupan. Dengarlah, denting gemerincing sendok memukul piring, bocah penjual keliling di malam yang hening.

Bocah yang tersenyum memikul beban, mentertawakan kita yang menangis hanya oleh sekeping cinta yang retak. Bocah yang berlari berpeluh memikul beban, mentertawakan kita yang mengeluh tanpa bersyukur.

Dengarlah denting piring bocah penjual keliling, ada alunan nada semangat kehidupan. Bocah yang tak hendak meminta kepada kita.

Kita tak bisa menghapus air matanya, karena si bocah tak lagi memiliki air mata. Kita banyak memiliki air mata, terkadang habis oleh sekeping cinta, atau oleh tusukan duri.

Jika ada yang tertikam tombak tapi
masih bisa tersenyum, haruskah kita menangis hanya karena tertusuk duri? Laparkah kita dengan sepiring nasi? Padahal ada yang hidup kokoh dengan sesuap nasi.

Mengapa menghitung apa yang telah kita peroleh? Bukankah kelak kematian melenyapkan apa yang kita genggam. Berhitunglah tentang apa yang kita beri dan bagi, karena kematian pun bahkan enggan untuk melenyapkannya.
® Cigasong Majalengka

Iklan