USA AND DOUBLE STANDARD

AMERIKA SERIKAT DENGAN STANDAR GANDANYA

Sikap Gedung Putih yang prihatin atas kebijakan orang kuat Turki, Erdogan, pasca kudeta yang gagal, dimana menangkapi sejumlah fihak yang terlibat, yang apa disebut sebagai berlebihan, adalah pernyataan yang sangat tidak mengejutkan bahkan sudah bisa diduga.

Sudah bukan menjadi rahasia dunia, USA menerapkan kebijakan luar negeri dengan standar ganda. USA akan welcome dengan pemerintahan yang bisa mengakomodasi kepentingan USA, sekali pun itu bukan rezim hasil demokrasi bahkan cenderung otoriter.

Dan itu menjadi fakta sejarah dunia, ketika USA mendukung rezim diktator Ferdinand Marcos orang kuat Malacanang, sebelum dijatuhkan oleh people power 1986 pimpinan Corazon Aquino.

Tetapi ketika sebuah kekuasaan berdiri berseberangan dan berbeda dengan harapan Gedung Putih, sekali pun hasil pemilu demokratis, maka akan menjadi lawan bagi Gedung Putih. Dan itu fakta ketika partai Islam, FIS, menang demokrstis dalam pemilu 1987 di Aljazair, tetapi kemudian dibatalkan oleh rezim otoriter yang juga didukung oleh USA.

Atau fakta ketika presiden hasil pemilu demokratis di Mesir, Muhammad Mursi, dikudeta oleh jenderal represif Abdul Fattah Assisi. Dan kini kita sangat tahu, bagaimana Reccep Thoyyip Erdogan, presiden hasil pemilu demokratis Turki, dan memimpin dengan menonjolkan warna keIslaman yang kuat, dan sangat vokal terhadap isu Palestina.

Pernyataan Gedung Putih yang menilai aksi Erdogan pasca kudeta sebagai berlebihan, tentu pernyataan yang berlebihan pula, karena itu menjadi bagian internal Turki. Padahal kita tahu, kebijkan USA saat menginvasi Irak, berlebihan dan itu terbukti ketika Saddam Hussein, tidak terbukti memiliki senjata pemusnah massal seperti yang menjadi dasar alasan invasi tersebut.

Jargon demokrasi dan HAM, tidak ada dalam kebijakan politik luar negeri Gedung Putih. Yang dikenal dan fakta adalah, bagaimana sebuah pemerintahan mau dan bisa dibawah kontrol kepentingan USA.
® Cigasong

Iklan