MIKE MOHEDE, KEPERGIAN YANG MENGINGATKAN

Lagi dan kembali, kita diingatkan dan dibelajarkan dari mereka yang telah pergi mendahului. Kepada kepergian yang tak kan pernah kembali. Mike Mohede, penyanyi bersuara emas itu, telah menutup mata diusia muda tanpa kita kira.

Tiada satu pun tempat, yang aman membuat kita selamat, jika ajal telah mendekat. Tiada satu waktu, yang membuat kita bisa berlalu, jika kematian telah menunggu. Haruskah kita khawatir dengan takdir yang menjadi kata akhir? Takut dengan maut yang pasti menjemput?

Kehidupan sejatinya adalah ruang tunggu menanti kematian. Setiap kita sungguh ada dalam waiting list dari antrian itu. Kita bisa berhati hati untuk tidak pernah mengalami kecelakaan atau sakit penyebab kematian. Tapi, kita tak memiliki daya juga upaya untuk berlepas dari kematian itu sendiri.

Hanya sekali dan begitu sesaatnya, kesempatan kita di ruang kehidupan dunia. Dan sekali sesaatnya kehidupan dunia, inilah yang lebih menggoda dan selalu kita khawatirkan. Kapankah maut itu menjemput? Apa yang akan terjadi pada kita, setelah kita terpisah oleh kehidupan dunia?

Menangislah untuk kematian kita yang pasti akan dialami. Mengapa kita hanya bisa menangisi kematian orang lain? Khawatirilah begitu sedikitnya ketaqwaan kita. Mengapa kita hanya bisa khawatir, dengan sedikitnya kehidupan dunia yang kita peroleh?

Makin jauh langkah kaki kehidupan kita, maka kian dekat kita berada dengan waktu kematian. Rahasia kematian yang tidak pernah kita ketahui, itulah yang menjadi sebab, mengapa kita tidak pernah berpikir dan merenung akan bagaimana setelah kita mati nanti.

Persiapkan dan susun rencana kita, untuk taat beribadah dan bertaubat jika kita sudah berusia tua nanti. Tapi ingatlah, bahwa kematian bisa datang lebih cepat dari apa yang kita rencanakan. Kita bukanlah Freddy Budiman, yang tahu kapan akan wafat, hingga sempat lebih dahulu bertaubat.

Kita mungkin manusia beruntung yang bukan terpidana mati. Tapi karena kita tidak tahu kapan kematian akan datang, membuat kita tertawa lupa dan terlena, hingga kita lalai dalam ketaqwaan dan menunda nunda pertaubatan.
® Cigasong

Iklan