BENCANA GARUT DALAM CERITA DOA

​Malam telah berlari jauh kebatas larut. Melelapkan kita dibalik kehangatan selimut. Air ingin bercerita mengabarkan akan ada duka, tapi tak bisa berkata, hanya gemuruh dalam dingin. Cimanuk malam itu membawa amuk yang berkecamuk. 

Banyak jiwa karenanya jatuh tenggelam remuk. Rumah rumah porak poranda menjadi puing yang bertumpuk. Ketika jasad jasad tak bersalah terbujur kaku dan membeku. Berlumur darah karena ulah sifat manusia yang serakah. 
Akankah jiwa yang hilang akan menyadarkan kita? Akankah tangisan anak tak berbapak membuka telinga nurani kita untuk didengar? Sahabatilah alam kita. Berjabatlah dengan bukit bukit kita. Berilah senyum kepada pohon pohon peneduh.
Cimanuk adalah detak nadi hidup berjuta kita. Tapi, kebaikan kedamaian Cimanuk dirusak dan dijarah oleh manusia serakah. Nisan bertuliskan telah matinya kepedulian diatas pusara jasad jasad tanpa salah. Doa hanyalah sekeping suara yang retak dalam kata terbata bata.
Amarah kita hanyalah isak tanpa suara. Kegeraman kita bukanlah kuasa untuk mengalahkan keserakahan. Dibawah langit hitam yang sunyi, kita mengadu tanpa suara tentang laku keserakahan. Mereka mungkin tak mendengar keluh kita. Tapi DIA akan memberi keadilan tentang laku kita.
® Cigasong

Iklan