WARISAN

Setiap manusia tanpa terkecuali, dilahirkan dimana atau bagaimana pun, memang dengan tak pernah bisa memilih. Dan ini bisa disebut sebagai warisan dari sana, yang harus kita terima. Tetapi, DIA pun memberi kita warisan yang lebih, yaitu akal kecerdasan.
Sehingga warisan diawal kehidupan, yang kita tidak pernah bisa memilih dan menolaknya, tetapi kita sangat bisa dan memiliki hak prerogatif untuk mengubahnya dikemudian hari, dengan warisan akal kecerdasan yang kita peroleh.

Sehingga hidup pun berdinamika muncul dengan keragamannya. Seorang muslim yang terlahir dari keluarga muslim, tidak terpenjara untuk hidup terus dengan kemuslimannya, karena dia kelak bisa memilih menjadi seorang non muslim. Begitu pula, seorang yang terlahir karena warisan dari keluarga non muslim, kelak bisa pula mengubahnya menjadi seorang muslim. Karena kita telah dibekali warisan akal kecerdasan, untuk bisa mencari tahu tentang kebenaran jalan hidup.

Kita yang terlahir dengan warisan tanpa sehelai benang pun, kelak bisa hidup dengan memilih berselimut pintalan benang yang menutup aurat tubuh. Tetapi, bisa pula kita memilih untuk hidup dari hasil tanpa sehelai benang pun. Kita yang terlahir tanpa apa apa, kemudian karena akal bisa memiliki segala apa apa, atau bisa pula hidup tidak memperoleh segala apa apa.

Asal hidup memang warisan dari DIA yang tanpa pernah bisa kita pilih,   tetapi DIA pun memberi warisan berupa akal kecerdasan kepada kita, agar dengan itu kita bisa mengubah warisan awal hidup. Karena setiap kita, kelak pasti akan mempertanggungjawabkan tentang jalan hidup di dunia yang bisa kita ubah, saat disidang pengadilan akhirat dihadapan DIA.

Seorang muslim diwajibkan, untuk menghargai dan menghormati segala perbedaan, karena kebhinnekaan memang adalah sunatullah warisan dari DIA. Itulah mengapa seorang Abu Lahab yang non muslim dan jelas memusuhi Islam, tidak pernah mati dibunuh oleh kaum muslim dizaman Nabi.

Atau dizaman terkini, Ahok yang divonis melalui pengadilan legal dibawah konstitusi, dinyatakan bersalah menistakan agama Islam, tidak pernah mengalami kekerasan fisik karena dugaan kesalahannya. Karena memang Islam tidak mengajarkan demikian. Lalu jika muncul tragedi ‘bom panci’ yang mematikan, maka harus ditanyakan langsung kepada para pelakunya, kenapa alasannya? Jangan mencari jawabannya dalam ajaran Islam.

Semangat menghormati kebhinnekaan dan toleransi hidup, harus terus dibangun. Dan telah ada dan dicatat dalam ajaran dan sejarah Islam. Toleransi juga termasuk menghargai hak hak pemeluk suatu agama, untuk membela atas perlakuan seseorang yang diduga telah menistakan suatu agama, untuk diproses secara hukum. Dan aksi tuntutan itu tentu saja sama sekali bukan bentuk anti kebhinnekaan. Bentuk toleransi juga bisa diterjemahkan dengan bagaimana kita mengelola tentang ucapan perbuatan dan kebijakan kita, untuk tidak menyinggung keimanan seseorang yang sangat sensitif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s