SUBYEKTIFITAS DITENGAH KEGADUHAN SOSIAL

Kita tidak mungkin bisa netral dan obyektif, menghadapi situasi kondisi sosial yang kini paling masif terjadi di Indonesia, pasca reformasi. Sentimen politik dan keagamaan, adalah kolaborasi kuat yang bisa memaksa seseorang untuk ikut arus rasa subyektifitas tersebut.
Apa pun latar dan motifnya, rasa suka atau tidak suka pasti ada seminimal apa pun, terhadap fihak A B C atau D. Sifat subyektifitas yang muncul dalam diri, akan menunjukan dan mewakili siapa kita ini. Tetapi sifat subyektifitas tersebut sebagai manusia, harus dicarakan diterjemahkan secara elegan dan proporsional.

Apalagi jika kita berpendidikan tinggi, sangat tidak elegan jika ketidaksukaan kepada salah satu fihak, diungkapkan dengan ucapan atau tulisan yang tidak berpendidikan, yang bisa kian meriuhkan dan menggaduhkan situasi kondisi. 

Tetapi kita yakin, akan selalu ada solusi yang baik atas setiap permasalahan yang muncul untuk menyelesaikannya. Andai pun solusi itu belum bisa kita peroleh, maka waktu yang terbatas akan mengakhirinya sebagai solusi. Kehidupan dan kekuasaan di dunia bukanlah ruang keabadian, karena akan berakhir dan berganti. Sejarah telah membelajarkan itu untuk kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s