MUSLIM BERTANYA, PENDETA SAIFUDDIN IBRAHIM MOHON MENJAWAB

** Tentang Kronologi Kelahiran Yesus 

Dalam khotbah pelayanannya yang dapat dilihat oleh publik di YouTube, Pendeta Saifuddin Ibrahim sering berbicara tentang Islam dan keislaman. Gaya bicaranya cenderung tendensius dan ‘menantang’ pertanyaan kepada muslim. 

Sebagai seorang muslim, saya terpanggil untuk bertanya tentang isi Injil yang sekarang diimani oleh pendeta ini. Semoga Saifuddin Ibrahim mau dan bisa menjawab keingintahuan saya, yaitu tentang kronologi kelahiran bayi Yesus dalam kitab Injil yang menurut saya kisahnya kontradiktif.

Menurut Injil Matius 2:1-23, Yesus lahir di Betlehem dengan ditandai munculnya bintang terang di langit timur. Karena tanda bintang itulah sekelompok orang Majus dari timur, datang ke Yerusalem ingin melihat bayi yang akan menjadi ‘raja’ umat Israel. Atas informasi orang Majus ini, raja Herodes penguasa atas Yerusalem di Yudea ini jadi tahu dan gusar maka berniat ingin membunuh bayi Yesus. 

Orang orang Majus berhasil menemui bayi Yesus di Betlehem. Atas petunjuk malaikat, orang Majus kembali ke daerahnya dan tidak menemui raja Herodes. Sementara atas petunjuk malaikat, malam itu juga orang tua Yesus mengungsikan bayi Yesus ke Mesir. Setelah tahu, raja Herodes marah besar, hingga memerintahkan agar semua bayi usia 2 tahun kebawah yang lahir di Betlehem Yerusalem dibunuh. Keluarga Yesus tinggal di Mesir sampai raja Herodes wafat digantikan oleh anaknya Arkhelaus. Barulah setelah itu bayi Yesus dibawa pulang oleh orang tuanya ke tempat asalnya dari Mesir ke Nazareth Galilea. Kisah ini ditulis oleh Matius agar tergenapi nubuat “terdengar suara tangisan di Rama” dan “kupanggil anakKu dari Mesir”.

Kronologi kisah ini sangat kontradiksi dan membingungkan jika dibandingkan dengan Injil Lukas 2:1-39. Karena selama 40 hari pertama sejak lahir, bayi Yesus dengan orangtuanya tetap tinggal di Betlehem dan Yerusalem. Usia 8 hari disunat, usia 40 hari diberkati didoakan di Bait Tuhan Yerusalem oleh imam Simeon dan Nabi Hana. Hingga semua orang tahu kelahiran bayi Yesus sang Mesias. Tapi anehnya, raja Herodes yang berkuasa atas Yerusalem tidak tahu. Bayi Yesus tetap aman dan tidak dibunuh dan tidak ada ancaman pembunuhan dari raja Herodes. Setelah 40 hari dan selesai upacara pemberkatan, bayi Yesus dibawa pulang ke Nazareth Galilea. Tidak ada kisah pengungsian ke Mesir.

Jelas, dua kronologi kisah kelahiran Yesus ini sangat membingungkan dan berbeda. Padahal kelahiran bayi Yesus adalah kejadian yang hanya satu. Mustahil kedua kisah ini benar semua, karena bercerita tentang satu kejadian. Pendeta Saifuddin Ibrahim tentu mengimani kitab Injil sebagai kitab suci, yang ditulis oleh penulisnya berdasar bimbingan ilham dan petunjuk dari Tuhan. Jadi mustahil kisah dalam kitab Injil keliru atau salah. Semoga Pendeta Saifuddin Ibrahim yang khotbahnya sering ‘menantang’ umat Islam, bisa menjawab dan menjelaskan dengan logika dan kecerdasan.

Iklan

MENJAWAB MENGAPA NABI BERISTERI BANYAK

Sudah sangat biasa bagi umat Islam dengan pertanyaan ini. Malu dan risikah umat Islam? Tentu sangat tidak. Karena kecerdasan dan logika keimanan bisa menjelaskannya.

Karena hasrat bioligiskah? Isteri pertama Rosulullah SAW adalah umul mukminin, Khodijah ra, janda dengan usia 15 tahun lebih tua dari Nabi. Dari Khodijah ra, Nabi memiliki 6 orang anak. Dua puluh lima tahun kemudian, Khodijah ra wafat dan saat itu Nabi hanya beristerikan seorang Khodijah ra.
Setelah Khodijah ra wafat, Nabi menikah dengan beberapa wanita, yang sebagian besar adalah janda beranak. Dari seluruh isteri kemudian ini, hanya satu isteri saja yang melahirkan anak, tapi saat balita anak beliau wafat. Tentu ini rencana Allah. Jika karena hasrat bioligis, tentu isteri isteri Nabi yang terbukti subur, akan melahirkan banyak anak. Apalagi zaman itu belum ada alat kontrasepsi.
Mengapa Nabi menikah dengan umul mukminin Aisyah ra, yang sangat muda usia? Ini rencana Allah yang sangat disyukuri oleh umat Islam. Seluruh isteri isteri Nabi, wafat relatif tidak lama setelah Nabi wafat. Dan Aisyah ra, adalah satu diantara isteri yang terakhir wafat, hingga lebih setengah abad setelah kepergian Nabi.
Karena muda usia, Aisyah ra bisa hidup lebih lama, juga terbukti cerdas. Karena itu, banyak ilmu dan ajaran Islam yang bersumber dari Aisyah ra, yang tidak diketahui oleh para sahabat Nabi, tapi Aisyah ra mengetahuinya, karena sebagai isteri. Aisyah ra sempat mengajarkan ilmu keIslaman hingga setengah abad pasca wafat Nabi.

Banyak hukum dan ajaran Islam yang muncul, karena hikmah pernikahan Nabi dengan beberapa isteri, terutama tentang ajaran kehidupan rumah tangga, pernikahan juga perceraian. Hukum dan tata cara juga ijab kabul pernikahan perceraian, bukan reka cipta dari ulama Islam. Tapi hukum Islam tersebut memang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW saat masih hidup.

Apakah menikah dengan banyak isteri zaman itu menyalahi peraturan? Mudah tentu menjawabnya, tidak. Apakah seorang Nabi, salah menikah lebih dari satu wanita? Siapa yang bisa menghitung para isteri dari Nabi Sulaiman as. Berapa orang isteri isteri dari Nabi Ibrahim as, Ishak as, Yakub as, Musa atau Daud as?

Mengapa Nabi menikah dengan lebih 4 wanita, tapi umat Islam dibatasi hanya maksimal 4 dalam waktu bersamaan, itu pun dengan persyaratan? Karena ada hukum yang dikhususkan hanya untuk Nabi, tapi tidak untuk umatnya. Sholat tahajud malam wajib untuk Nabi, tapi tidak untuk umatnya. Dan keluarga juga keturunan Nabi tidak boleh menerima zakat. Tapi umat Islam lainnya boleh. Karena Allah maha tahu dan maha perencana.

Tentu saja, mendeskreditkan Islam, dengan dakwaan karena Nabi Muhammad SAW beristeri banyak. Atau Nabi seorang fedopil, sangat tidak bisa menggoyahkan keimanan seorang muslim. Karena seorang muslim didoktrin untuk meyakini Islam dengan logika kecerdasan keimanan, bukan percaya begitu saja dengan dogma keimanan.

MEMBANTAH PENDETA SAIFUDDIN IBRAHIMĀ 

ISLAM MENGAJARKAN KEKERASAN?

Jagat media sosial tengah diriuhkan diantaranya oleh banyak video dan postingan viral dari seorang pendeta Saifuddin Ibrahim, yang konon awalnya sebagai seorang muslim, tentu itu pilihan hidup dan hak asasi seseorang. Karena postingannya kerap berbicara tentang Islam dan keislaman, tentu sebagai Muslim kita berhak untuk mengklarifikasi atas apa yang dia sampaikan.

Dalam banyak ceramahnya dia berbicara, pilihan meninggalkan Islam karena Islam mengajarkan kekerasan dan pembunuhan, dia membawakan ayat ke 191 surat al-Baqarah. Tentu saja seorang muslim, bahkan yang awam pun sangat paham, bahwa ayat tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan Islam mengajarkan kekerasan apalagi membunuh seseorang. Karena ayat tersebut bersama ayat sebelumnya 190, menceritakan tentang peperangan yang dilakukan oleh umat Islam, dimana umat Islam harus membela diri dalam peperangan tersebut. Jadi konteksnya bukan ajaran perintah untuk membunuh atau melakukan kekerasan tanpa alasan atau sebab. 

Secara logika pun, tentu saja sebuah kemustahilan jika agama mengajarkan kekerasan atau membunuh. Kekerasan atau pembunuhan adalah keniscayaan dalam kehidupan, bisa terjadi dimana pun kapan pun dan oleh siapa pun.

Sejarah kelam kekerasan dalam peradaban tidak hanya monopoli komunitas satu agama. Sejarah dunia mencatat bagaimana kekerasan genosida pernah terjadi pada abad pertengahan, terhadap ribuan umat Islam di Spanyol yang dilakukan oleh bangsa Eropa ( inkuisisi ). Genosida juga pernah terjadi dengan korban ribuan umat Islam yang nota bene pelakunya umat non Islam pada tahun 1990an di Bosnia Herzegovina.

Saifudin Ibrahim juga mengatakan bahwa sejarah awal Islam penuh kekerasan dengan terjadinya 27 kali peperangan. Masa itu peperangan sesuatu yang bisa difahami terjadi dan adalah sebuah keniscayaan, karena Nabi lahir di wilayah yang tidak memiliki sistem aturan bernegara. Misi Nabi pun berdakwah mengajarkan menyembah kepada satu Tuhan, di tengah komunitas pagan yang menyembah banyak dewa.

Faktor-faktor itulah yang menyebabkan timbulnya peperangan yang tidak bisa dihindari. Tentu sangat berbeda dengan sejarah awal Kristen, dimana Yesus lahir di wilayah dengan sistem pemerintahan ( Romawi ). Dan di komunitas Bani Israil yang relatif telah memiliki ajaran agama menyembah kepada satu Tuhan, ajaran yang disampaikan oleh nabi Musa. Jelas konsekuensi berperang tidak mungkin dialami dalam dakwah Yesus saat itu. Saifuddin Ibrahim sangat paradoks, pada satu sisi nyinyir kepada Islam, karena katanya umat Islam susah payah jika ingin masuk surga, karena harus beramal baik sebanyak mungkin. Tapi disisi lain menuduh Islam mengajarkan kekerasan kepada umatnya. Tuduhan dan nyinyiran yang sangat standar ganda. 

Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya membunuh orang non muslim. Jika itu benar, tentu pendeta Saifuddin Ibrahim saat ini sudah tidak akan hidup segar bugar. Jika tuduhan Saifuddin Ibrahim benar, maka tidak akan ada warga Saudi Arabia yang non Islam bisa hidup di negara Saudi Arabia. Dan akan banyak masyarakat non muslim di Indonesia yang akan dibunuh oleh mayoritas muslim, misal di Aceh. Jadi nyinyiran dan tuduhan asbun dari pendeta Saifuddin Ibrahim, jelas sangat tidak cerdas dan sangat salah.

HIJAB : DIGUNAKAN ATAU DITANGGALKAN?

Hijab adalah kewajiban bagi muslimah, terlepas apakah hatinya sudah baik atau belum. Jika harus menunggu baik dan sempurna, maka tidak akan pernah ada kita manusia biasa yang baik dan sempurna. 
Semisal kebutuhan makan dan minum, adalah keharusan setiap manusia yang hidup, terlepas apakah hatinya baik atau jahat. Ungkapan “Hijab hati lebih penting, sebelum menghijab tubuh”, adalah alasan klise bagi mereka yang memang enggan untuk berhijab. 

Seorang muslimah yang walau masih berhati jahat, tetap wajib berhijab. Karena ketika seorang muslimah berhijab, dia beroleh kebaikan pahala berhijab. Sebagaimana ketika dia menanggalkan hijab, maka dia berdosa karenanya. 

Hijab, bukan persoalan harus hati baik atau masih jahat, tapi soal perintah ALLAH. Perihal hati dan sikap adalah soal lain. Analoginya apakah jika hati dan perilaku kita masih jahat, lantas iman ISLAM kita harus ditanggalkan? Haruskah menunggu hati dan perilaku kita baik dahulu? 

Kita mungkin saja menunda berhijab, menunggu hati dan perilaku baik dahulu, padahal KEMATIAN bisa menjemput kita lebih cepat dari rencana pertaubatan kita. Berharap dan berdoalah, agar Allah tidak mencabut nyawa kita selagi kita mencabut hijab. Atau Allah memaksa kita berhijab dengan kain kafan, saat kita telah kaku tak mungkin lagi bisa bertaubat?

Berdoa dan berharaplah agar kematian tidak segera datang sebelum kita bertaubat. Tapi tahukah kita bahwa takdir kematian, tidak bisa ditunda dengan doa dan harapan kita. Kematian adalah kekuatan yang tidak pernah bisa disiasati, dan tidak pernah bisa kita mengalahkannya.

POLITIK HANYA SEBATAS RASA

Politik kekinian telah membuat rasa dan cara pandang kita terhanyut oleh arus yang deras mengalir. Hingga membuat kita hanyut dan terseret dipusaran arus aliran politik yang begitu deras. Dalam situasi seperti ini, sulit bagi sebagian kita untuk berpijak ditepian netralitas dengan cara pandang yang obyektif dalam pembicaraan politik.

Apalagi ketika konstelasi politik telah bersentuhan dengan rasa keagamaan dan primordialisme. Mungkin kita dari sebagian besar yang memiliki  keberpihakan karena afiliasi politik walau sekadar sebatas rasa, karena bukan pelaku langsung politik. Atau kita bisa jadi manusia langka dari sebagian sedikit, yang memiliki kekuatan perasaan hingga mampu berdiri netral dan obyektif dalam pembicaraan politik.

Ketika kita bicara dan berdebat politik, tentu cara pandang kita sulit melepaskan diri dari rasa keberfihakan, baik karena pilihan kepada figur personal atau pilihan partai politik, apalagi ketika isu keagamaan dan primordialisme begitu kental. Menghindari pembicaraan dan perdebatan tentang politik, dengan fihak yang berbeda, bisa sebagai cara bijak sebuah upaya untuk menahan diri.

Baik individu atau media, sulit untuk bersikap netral dan obyektif ketika berbicara politik. Kita akan melihat politik, terikat oleh dimana kita berdiri dan berposisi. Menahan diri bisa membuat kita untuk tidak masuk kedalam perangkap dosa karena lidah dan telinga, karena isu politik sangat menggoda lidah dan telinga untuk ikut bermain.

Berlindung dari fitnah dunia yang seorang muslim dianjurkan untuk berdoa menghindarinya diakhir sholat, mungkin inilah zaman tersebut. Tetapi realita arus politik adalah tak bisa kita hindari dengan akibatnya yang mempengaruhi kehidupan. Maka menahan diri dan mendekat kepada DIA adalah upaya terbaik. Erupsi aspirasi rasa politik kita, cukup   kita eksekusi saat hari Pilkada atau Pemilu. Hukumlah dengan tidak memilihnya atau dukung dengan memilihnya.

TAK BISA BERJALAN TETAPI MELANGKAH KE SURGA

Alana Ragil Prasetyo, bocah delapan tahun asal Banjarnegara penyandang difabel terlahir prematur berberat 13 ons yang divonis akan wafat, terlahir sebagai tanda kebesaran Allah untuk memberi ingatan dan membelajarkan kita tentang kekuasaanNYA yang tidak berbatas tidak terbatas. Dengan keterbatasannya yang menurut kita sulit, Allah memberi kekuatan kepada Alana sebagai juara hafiz Qur’an Asia Pasifik, agar melalui Alana kita mau melihat mendengar dan datang kepadaNYA. 
Alana terlahir tak bisa berjalan, kini setelah menjalani operasi kaki pasca tampil sebagai juara hafiz Qur’an, dia bisa berjalan walau masih tertatih tatih. Alana berjalan tertatih tatih di dunia, tetapi bocah ini begitu kuat dan cepat dalam melangkah mencari surgaNYA. Sementara banyak kita kuat dan cepat melangkah mencari dunia, tetapi tertatih tatih bahkan berhenti untuk mencari dan datang kepadaNYA.

Berapa jauh jalan dosa yang telah kita tempuh? Telahkah langkah langkah kaki kita mendekatkan jarak kepadaNYA. Nikmat sehat langkah kaki apa yang telah kita dustai? Yang telah kita syukuri? Alana dengan derita kaki terlahir untuk mengingatkan kita agar melangkah kepadaNYA. Ingatlah padaNYA selagi kaki kaki kita dapat melangkah. Ataukah kita teringat setelah kaki kaki kaku tidak dapat melangkah? Menangislah di dunia tentang kematian, atau menangisi kehidupan saat kita di alam kematian?