AIR MATA DUNIA, MATA AIR SURGA

Jalan ke surga bisa mudah, tetapi kita mempersulitnya diantaranya dengan cara enggan memberi dan berbagi. Jalan ke surga pun begitu dekat, tetapi langkah kita menjauhinya dengan membuang apa yang kita makan, dengan enggan memberi rezeki yang kita miliki.

Pintu surga begitu lebarnya, tetapi kita menutupnya ketika kita menutup mata untuk enggan melihat mereka yang membutuhkan. Pintu surga bisa terbuka lebar, bahkan hanya dengan sekerat roti bahkan dengan sekeping uang.

Ketika surga bisa ditempuh dengan berjalan, maka berbahagialah mereka yang berlari menghampiri surga. Banyak jalan menuju surga, tetapi kebanyakan kita enggan berjalan untuk menempuhnya.

Ketika kita tak memiliki untuk sedikit pun memberi. Ketika kita tak kuat, bahkan untuk sedikit pun berbuat. Maka surga akan tetap mendekat dan menghampiri kita, ketika kita tetap bersyukur padaNYA walau dengan nikmat yang belum kita dapatkan. 

Ketika kita belum memiliki rezeki untuk memberi dan berbagi, belum memiliki daya untuk upaya, maka bersedekahlah dengan kebaikan lidah, hati dan pikiran yang terjaga, agar dengan sedekah ini orang lain tak tersakiti tak teraniaya tak terzalimi.

Berbahagialah mereka yang mau mendengar walau belum bisa melakukannya. Berbahagia pula mereka yang tidak mendengar tapi mau melakukannya. Merugilah mereka yang enggan mendengar dan enggan pula untuk berbuat.

Iklan

PIALA DUNIA TANPA ITALIA ARGENTINA BELANDA

Tanpa Belanda Piala Dunia pernah berkali kali, tanpa Italia pun Piala Dunia pernah sesekali, tanpa kehadiran Argentina juga pernah terekam. Tetapi ketika tanpa ketiga negara ini, Piala Dunia tentu menjadi kurang bercerita. Apalagi jika Portugal pun gagal, maka Piala Dunia tentu akan berlangsung dengan banyak catatan.
Keempat raksasa sepak bola dunia ini, kini masih berdoa dan berharap cemas agar bisa lolos. Kepastian mereka masih menunggu diakhir waktu penyisihan. Mereka memang tak selalu menjadi unggulan FIFA jika pun hadir. Tetapi mereka hampir pasti menjadi diantara tim tim favorit juara.

Belanda pernah mengguncang dunia sepak bola diera Cruyff 1974 dan 1978 serta Gullit 1990 dan 1994, dengan keindahan bermainnya. Kala itu mereka hanya dikalahkan oleh takdir untuk tidak menjadi juara. Portugal pun pernah memiliki segala syarat untuk juara diera Eusebio 1966, tetapi itu terjadi dimasa Brazil begitu adidayanya dalam bersepak bola.

Italia tentu bagian dari kehebatan sejarah Piala Dunia, seperti halnya Argentina. Final Italia vs Brazil 1970 terekam sebagai laga sepak bola terbaik dalam sejarah. Bersama Brazil dan Jerman, Italia head to head mencetak rekor juara. Italia pun menjadi kekuatan yang paling sering mematahkan dominasi Jerman di Piala Dunia.

Argentina pernah memunculkan maha bintang dunia dipentas 1986, Diego Armando Maradona. Teatrikal sepak bolanya kala itu, sangat menyihir publik dunia. Gol kontroversial dan gol fenomenal dunia, terjadi pada 1986 melalui tangan dan kaki seorang Maradona. Tidak seperti saat juara 1978 yang sangat dipertanyakan, juara 1986 bagi Argentina adalah ‘keharusan’ sejarah.

Tentu publik berharap keempat negara ini bisa memanaskan pentas olah raga terbesar di muka bumi Piala Dunia 2018. Khusus untuk Belanda tentu publik harus bersiap untuk menerima ketidakhadiran Belanda. Sementara Italia Argentina dan Portugal masih menyisakan asa besar untuk bisa berlaga di Rusia.

KEJUJURAN DAN KEBOHONGAN

Dalam kehidupan, adalah lumrah, ketika kebohongan melangkah dan berjalan. Kebenaran terkadang tersingkir dari jalan waktu. Tapi jam waktu kebenaran akan menghentikan detik detik kebohongan.
Kebohongan sering mengubur diri, menimbun dengan onggokan kebaikan semu. Tapi hujan kebenaran akan turun mengerosikan onggokan kebaikan semu. Dan waktu akan menampakan kebohongan yang berjasad pias ketakutan.

Kerap kebaikan harus diperbuat untuk menutupi kebohongan. Karena seorang penipu dapat memperdaya korbannya, bukan oleh tipuannya, melainkan oleh senyumnya yang membuat kita terpana hingga terperdaya.

Manusia dibenarkan bukan oleh ucapannya, karena ucapan kerap melompat melampaui batas realita. Maka ukur dan takar bagaimana seseorang menjalankan keimanannya. Dari buahnyalah kita mengetahui sebuah pohon. Karena dunia sangat menggoda, hingga kita sering harus berdusta.

MENGALAHKAN TERORIS TETAPI KALAH OLEH KORUPTOR

Euforia dan histeria keyakinan meriuhkan jagat kehidupan bangsa ini, pasca aksi teror bom di jalan Thamrin beberapa waktu lalu. Kita bangga dan yakin karena telah mengalahkan teroris ketika itu, bahkan ketika itu viral kebanggaan ‘kami tidak takut’. Hampir tidak ada celah bagi pelaku teror untuk bebas dari jerat hukum.
Aksi teror tidak mungkin tersembunyi, pasti terekspos dan memberita serta mendunia. Tetapi ingat, tidak setiap saat aksi teroris bisa terjadi. Kita sebagai rakyat dan pemerintah, sangat bisa bersatu sepakat mengalahkan teroris.

Bagaimana kita menghadapi dan melawan korupsi? Rakyat tentu sangat marah dan melawan. Tetapi negara? Inilah yang belum terjadi, kekuatan dan cara cara melawan teroris, belum diaplikasikan untuk melawan koruptor. Padahal korupsi adalah kejahatan mega teror dibidang ekonomi.

Pembentukan KPK dan dana milyaran rupiah, bisa tidak akan mungkin dapat mengalahkan kejahatan korupsi. Tidak seperti teror oleh teroris, korupsi bisa terjadi setiap hari dengan banyak pelaku, dengan bersembunyi dan tersembunyi.

Hanya satu cara untuk mengalahkan korupsi, HUKUM MATI para koruptor, tidak bisa dengan cara lain. Selama koruptor tidak dihukum mati, maka korupsi tumbuh subur di Indonesia dengan semboyan “patah tumbuh hilang berganti”.

Sungguh, Indonesia telah dikalahkan dan bertekuk lutut menghadapi kejahatan korupsi. Semua logika dalam hidup, telah dan mungkin bisa terjadi di Indonesia. Hanya satu yang mustahil bisa terjadi dan dilakukan, yaitu MENGHUKUM MATI KORUPTOR. Itulah mengapa, semboyan para koruptor di Indonesia adalah KAMI TIDAK TAKUT BERKORUPSI.

NIKAH SIRI ( TANPA DOT COM )

Kita hidup di negara dimana perundangan perkara hukum muamalah Islam memiliki payung hukum, satu diantaranya perihal pernikahan. Kita memiliki institusi KUA, untuk memfasilitasi pernikahan bagi umat Islam. Yang melindungi pernikahan dibawah hukum legal yang mengayomi melindungi para pelaku pernikahan.
Jadi tidak pada tempatnya jika pasangan pernikahan memilih menikah siri dalam artian tidak melalui KUA. Jika ada yang legal dan melindungi, tetapi memilih cara dan jalan berbeda, lalu apa motivasi alasannya? Untuk berdusta atas nama cinta? Untuk bersembunyi didalam kegelapan cinta?

Kita bukan hidup ratusan atau seribu tahun lalu. Kita hidup diera dimana ada hukum yang memfasilitasi dan melindungi hukum pernikahan secara terang. Segala persoalan yang timbul dari pernikahan legal, masyarakat dan negara bisa terlibat dan mengayomi. Kemana mengadu bagi pasangan pernikahan siri jika menjadi korban akibat negatif yang timbul dari pernikahan diam diam?

EGY MAULANA VIKRI, THE RISING STAR

Aksi sihir sepak bola Diego Armando Maradona saat jayanya tidak perlu diperdebatkan, dia mampu melakukan tehnik bermain yang belum tentu bisa diperbuat pemain lainnya. Ciri khas yang begitu melekat dari seorang mega bintang sepak bola, adalah seringnya membuat gol dengan cara atau proses yang sulit dan indah.
Selain Maradona, ada dua nama lain yang tidak berlebihan kita sebut sebagai penyihir dalam bersepakbola, Lionel Messi dan Christiano Ronaldo. Drible bola mereka dan cara mereka membuat gol, tidak bisa sering diperbuat pemain lainnya. Ketiga nama ini, sangat layak ditasbihkan sebagai mega bintang sepak bola dunia, dalam hal skill individu. Dan tentu pula kontribusi bermain bagi timnya.

Egy Maulana Vikri rising star kita, tentu bukan dan jauh dibanding Maradona Messi atau CR7. Tetapi cara Egy mencetak gol, begitu sering melalui proses teknik tinggi. Maka asa dan kebanggaan sepak bola kita, tidak berlebihan ekspektasi kita tambatkan kepada seorang Egy Maulana. Dalam konteks kehebatan bermain, kita tidak ragu, untuk kelas Asia pun, diusianya, apa yang diaksikan Egy dalam bersepakbola bola layak membuat Asia terpana.

Egy memiliki talenta kuat untuk bisa menjadi bintang secara individu, yang jika ini menjadi nyata, tentu akan berkontribusi bagi persepakbolaan kita. Tetapi, semua itu kembali terpulang kepada waktu dan perjalanan karier. George Weah, Rabah Madjer, Vitaya Laohakul, Cah Bun Kun hingga Park Ji Sung adalah bintang besar yang berasal dari negara dunia ketiga sepak bola, dan bersinar terang karena berkarier di kiblat sepak bola dunia, Eropa.

HAORNAS, KEMANA OLAHRAGA KITA

Sejak Presiden Soeharto, mencanangkan 9 September sebagai hari olahraga nasional, pada 1984 di stadion utama Senayan, yang kala itu ditandai dengan laga sepakbola penuh gengsi, Yanita  Utama Bogor juara Galatama kontra PSMS Medan juara perserikatan, prestasi olahraga Indonesia penuh dengan catatan apresiasi dan koreksi.

Secara umum, prestasi kita belum sampai ke puncak impian. Stagnan jika indikasinya raihan medali di Olimpiade atau Asian Games. Jika data Sea Games jadi acuan, maka bisa kita baca sebagai sebuah keprihatinan yang besar. Pada beberapa cabang olahraga yang populer, prestasi kita belum juga bisa melewati batas pengharapan.

Sepakbola cabor terpopuler, belum pernah melewati batas keinginan kita. Lolos piala dunia, finalis Asia, juara AFF pun masih sebatas bayang di angan. Bulutangkis cabor paling melegenda, kini memiliki grafik penurunan yang tajam. Ketika negara negara lain terbangun dan keluar dari mimpi, kita malah seperti terbuai belaian prestasi masa lalu, hingga kita tertidur dan terperangkap mimpi.

Mengembalikan kejayaan yang telah lama hilang, membangunkan prestasi yang kini masih di alam impian, melangkah gagah melewati batas pengharapan, adalah asa olahraga yang sudah seharusnya bisa kita capai. Kemiskinan Korea Utara yang bisa lolos ke World Cup atau pencapaian Irak yang juara Asia, ditengah kehancuran negara tanpa kompetisi sepakbola, harus menyadarkan kita, bahwa kita memiliki lebih segala untuk bisa menciptakan prestasi tinggi.