HAORNAS, KEMANA OLAHRAGA KITA

Sejak Presiden Soeharto, mencanangkan 9 September sebagai hari olahraga nasional, pada 1984 di stadion utama Senayan, yang kala itu ditandai dengan laga sepakbola penuh gengsi, Yanita  Utama Bogor juara Galatama kontra PSMS Medan juara perserikatan, prestasi olahraga Indonesia penuh dengan catatan apresiasi dan koreksi.

Secara umum, prestasi kita belum sampai ke puncak impian. Stagnan jika indikasinya raihan medali di Olimpiade atau Asian Games. Jika data Sea Games jadi acuan, maka bisa kita baca sebagai sebuah keprihatinan yang besar. Pada beberapa cabang olahraga yang populer, prestasi kita belum juga bisa melewati batas pengharapan.

Sepakbola cabor terpopuler, belum pernah melewati batas keinginan kita. Lolos piala dunia, finalis Asia, juara AFF pun masih sebatas bayang di angan. Bulutangkis cabor paling melegenda, kini memiliki grafik penurunan yang tajam. Ketika negara negara lain terbangun dan keluar dari mimpi, kita malah seperti terbuai belaian prestasi masa lalu, hingga kita tertidur dan terperangkap mimpi.

Mengembalikan kejayaan yang telah lama hilang, membangunkan prestasi yang kini masih di alam impian, melangkah gagah melewati batas pengharapan, adalah asa olahraga yang sudah seharusnya bisa kita capai. Kemiskinan Korea Utara yang bisa lolos ke World Cup atau pencapaian Irak yang juara Asia, ditengah kehancuran negara tanpa kompetisi sepakbola, harus menyadarkan kita, bahwa kita memiliki lebih segala untuk bisa menciptakan prestasi tinggi.

Iklan

SESAL TIADA GUNA

RinduNYA berkejaran dalam waktu, doa merintih beribu ucap, cinta segala wujud dido’a sujud, hingga takdir menutup akhir.
Saat  kita berselubung kabung, usah takut kala maut menjemput, tak satu sesuatu pun dapat luput, berdayakah berlari bila akhir menghampiri? 

Tiada ada yang tidak akan menghadapNYA, semoga ada waktu tersisa bagi nyawa dalam raga.

Bersesakan asa untuk mendahului waktu, Ketika nafas sesaat saja terlepas, Jerit pun tak bergaung dicekam sunyi, Jiwa pun terbujur kaku berselubung kafan.

Dosa bergemuruh dalam pesta riuh, maksiat menjerit lantang melaknat taubat, sholat sesaat tak jua diingat, do’a hanya ucap dalam hampa makna.

Bila kita terbujur diruang kubur, sendiri dalam sunyi saat menyesali, hidup yang sekali tak kita bekali, tergoda dosa terikat erat maksiat.

Menangis sesal di alam nan kekal, Mengingat hidup bergelimang maksiat, Ketika iman sekadar retorika lisan, Ingin andai hidup berulang kembali.

KEMATIAN DALAM SEPAKBOLA

Insiden mematikan yang tidak pernah kita harapkan, lagi kembali terjadi didunia sepakbola kita. Sebelum ini kita berharap, kepergian yang tak lagi kembali, yang dialami Ricko Andrian, adalah kali yang terakhir. Korban jatuh oleh kejahatan yang merusak sepakbola kita, tak lagi terbilang oleh jemari kita.
Dan tragedi mematikan terkini kembali terulang, di Bekasi 2 September 2017, Catur Yuliantoro, pergi oleh satu kesalahan yang tidak pernah dia perbuat. Kepergian Catur tentu sangat merobek asa dan rasa sepakbola. Air mata menjadi pertanda, isak menjadi cerita penyesalan. Tetapi itu tidak bisa memberi jawab apakah tragedi kematian ini adalah untuk kali terakhirnya.

Lama telah pecinta sepakbola membangun dengan segala upaya agar sepakbola lebih maju terdepan. Tetapi  hanya sesaat saja asa itu bak diruntuhkan oleh ego dan fanatisme tak bernalar. Kita berharap dan berdoa, agar kepergian yang tak lagi kembali seperti yang dialami korban oleh sebuah kejahatan yang merusak sepakbola, tidak boleh dan tidak lagi terjadi.

Apakah masih kita ingin menancapkan nisan permusuhan? Menggali lubang pusara kematian? Riko Andrian dan Catur, pergi dengan menangis oleh karena senyum kebencian kita. Saatnya kita buat mereka tersenyum, dengan tangisan penyesalan atas segala dosa permusuhan dan kebencian kita selama ini.

SEPAKBOLA SEA GAMES 2017

Memerahkan Sejarah dengan Seputih Doa

Cerita sejarah tengah diupayakan oleh Garuda muda kita. Mengulang kisah emas terakhir di Manila 1991, saat kita menang dalam final yang begitu dramatis dan mengaharukan. Semifinal kami telah datang, Malaysia pun akan menantang. Untuk satu pilihan, kalah atau menang.

Semoga cerita sejarah 1987 dan 1991 akan terulang. Seperti gol berkelas dunia Feby Haryadi lewat canon ball, yang mengulang cerita dan mengingatkan kita akan gol canon ball oleh Andrian ‘Bau’ Mardiansyah, yang juga ke gawang Kamboja, juga diajang Sea Games, pada 1999.

Semifinal yang (akan) keras dan panas, tidak sekadar soal kuantitas dan kualitas diatas pentas. Tapi tentang rivalitas yang tidak sekadar diatas kertas. Persaingan yang saling berbalas, untuk menjadi yang teratas, atas dua negara serumpun ras, yang hanya dipisah oleh garis batas.

Semifinal tentu bukan akhir tujuan, tetapi sebagai jalan yang harus bisa kita taklukan. Keras dan berat tentu dan pasti. Tetapi bukan sebuah kemustahilan untuk kita lewati. Ke final adalah keniscayaan, tetapi jelas butuh beratnya perjuangan.

Mengalahkan Kamboja adalah asa yang menjadi kenyataan. Tetapi bukan hasil tanpa catatan. Perlu perbaikan dan pembenahan. Fisik perlu penyegaran, emosi perlu lebih ditahan. Semangat juang minimal bisa dipertahankan. Semoga Malaysia bisa kita kalahkan. Semoga medali emas mimpi yang akan menjadi kenyataan.

JAWABAN UNTUK : ISLAM AGAMA SETAN

Islam diwahyukan untuk mengatur hidup umatnya agar memperoleh kebahagiaan hakiki pasca kematian. Untuk itu, Islam mengatur banyak hal kehidupan manusia. Bagi seorang muslim, sejak dilahirkan hingga wafat, maka tak pernah lepas dari aturan Islam. Dan segala ritual dan simbol religi dalam Islam, adalah dari perintah Allah, yang telah dicontohkan saat Muhammad SAW hidup di dunia. Bukan sesuatu hal yang dibuat oleh para ulama Islam.

Islam tentu bukan sistem hidup hasil berfikir Muhammad SAW, tetapi benar wahyu dari Allah yang disampaikan kepada Muhammad SAW untuk segenap manusia. Ketika seorang muslim mengerjakan ibadah sholat, maka ibadah tersebut telah pula dikerjakan oleh Muhammad SAW ketika beliau masih hidup. Ibadah sholat dengan doa dan gerakannya bukanlah hasil cipta dari ulama Islam. Begitu pula dengan banyak ibadah lainnya dalam agama Islam. 

Bahkan tempat ibadah yang dinamakan mesjid, fungsi dan namanya, sesuatu yang telah ada saat Muhammad SAW masih hidup. Hari keagamaan Islam yang merupakan hari Jumat pun, bukan rekayasa manusia, tetapi satu hal yang telah ada ketika Muhammad SAW masih hidup. KITAB SUCI Qur’an yang kini biasa dibaca oleh seorang muslim, telah ada dan juga biasa dibaca oleh Muhammad SAW, walau saat itu masih berbentuk lembaran lembaran. Qur’an bukan buah karya manusia atau hasil berfikir Muhammad SAW. 

Sebagai agama, Islam pun memiliki ikatan  yang erat dengan para Nabi terdahulu. Beberapa makanan haram yang tersebut dalam Taurat Musa, tetap diharamkan, tidak kemudian menjadi halal dimakan. Ajaran dari Ibrahim untuk memotong sebagian kulit kelamin anak lelaki atau sunat, tetap menjadi ajaran dalam Islam. 

Islam pun tetap mengikuti ajaran para nabi terdahulu yang menyembah hanya kepada satu Allah. Ajaran yang menyembah hanya kepada satu Tuhan, adalah ajaran yang juga disampaikan oleh para nabi sejak Adam Nuh Luth Ibrahim Musa Sulaiman Daud Ilyasa Yunus Zakaria Yahya hingga Isa putera Maryam. 

Islam sangat menghormati dan memuliakan para nabi. Islam memuliakan Sulaiman anak Daud, menghormati Daud yang ayah Sulaiman. Juga menghormati Nuh dan Luth. Dalam Qur’an tidak pernah ada cerita tentang perbuatan aib yang dilakukan oleh Daud Sulaiman Luth Nuh atau Ilyasa. Karena mereka adalah utusan Tuhan yang memiliki sifat terhormat dan mulia.

Ketika seorang muslim wafat, maka proses ritual kematian yang diantaranya dibungkus dengan kain kafan, adalah juga perintah Allah. Apalagi Muhammad SAW ketika wafat pun dibungkus dengan kain kafan. Seperti ketika Isa putera Maryam wafat, pun dibungkus dengan kain kafan. Islam bukan agama yang segala hukum dan aturan ibadahnya hasil cipta manusia.

Qur’an sebagai kitab wahyu dari Tuhan, berisi petunjuk aturan hidup, aturan ibadah dan sejarah para nabi utusan Tuhan. Qur’an juga bercerita tentang ilmu pengetahuan, yang belum diketahui oleh Muhammad SAW pada saat Qur’an diturunkan. Qur’an bercerita tentang proses penciptaan bayi dalam rahim wanita. Tentang proses air menguap, awan dan hujan. 

Qur’an juga bercerita, bahwa bumi dan benda benda langit berputar dan bergerak. Bercerita bahwa bunga bunga tumbuhan berkembang biak dengan perantara angin. Qur’an pun bercerita tentang diselamatkannya jasad Fir’aun yang mati tenggelam saat mengejar Nabi Musa. Sungguh tidak ada keraguan dalam Qur’an dan Islam.

MIKROFON PELUNAS HUTANG INDOSIAR

CINTA KESETIAAN SEORANG SUAMI

Realiti show ‘Mikrofon Pelunas Hutang’ Indosiar menghadirkan seorang lelaki luar biasa. Dengan ceritanya yang penuh air mata duka, Mad Husein tampil sebagai potret kesetiaan seorang suami terhadap istri yang dicintai. Dan itu teruji ketika sang istri menderita sakit kanker payudara. Tak ada niatannya untuk berlalu dari sisi sang istri. Genggaman tangannya tetap erat untuk dekat dan bersama sang istri.
Seperti lagu ‘Biarlah Bulan Berbicara’ yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi bersuara emas Bob Tutupoly, dibawakan Mad Husein dengan penuh pesan dan menyentuh dibatas rasa. Penggalan lirik lagu, “Aku yang merasa, sangat berdosa padamu, masih pantaskah ku mendampingimu”, begitu sangat bercerita hinga menggugah rasa seorang Soimah yang sebagai juri.

Ujian kesetiaan memang bisa bukan saat kita sedang tertawa atau bahagia. Tetapi kesetiaan menjadi tantangan untuk bisa ditaklukan, ketika kita hidup saat terluka dan berderai air mata. Mungkin banyak kita yang tergoda dan takluk, mengingkari kesetiaan dan mengkhianati kepercayaan. Hanya mereka yang luar biasa yang tetap menggenggam erat sebuah kesetiaan.

Cinta menyatukan dua manusia, maka kesetiaan akan mengikatnya dalam kebersamaan dan waktu. Tetapi terkadang pengkhianatan datang menggoda. Ada diantara mereka yang ditaklukan, tetapi ada mereka yang bisa menaklukan. Maka carilah dia yang tidak hanya menggenggam tangan kita di dunia, tetapi bisa menggandeng tangan kita hingga kelak di surga.

PETA DUNIA, GEOGRAFI KEKUASAAN ALLAH

Bila kita mencermati peta dunia, sungguh nyata rancang bangun kekuasaan Allah adalah bukti kesempurnaanNya. Bukti kasihNya kepada umat manusia. Sejalan dengan substansi ayat Kursi al-Baqoroh 255. Bentuk geogorafi bumi kita bukanlah sebuah kebetulan dari proses alam, tapi kesengajaan dari kekuasaan dan kemurahan ALLAH.
DIA merancang daratan yang sempit antara laut Merah dengan laut Mediterania, agar manusia dapat dan mudah membangun terusan Suez. Tak terbayangkan sulit dan mahalnya kehidupan umat manusia andai tidak ada terusan Suez, karena pelayaran harus mengelilingi benua Afrika melintasi Tanjung Harapan. 

Laut sempit ini pula, yang pernah memperlihatkan kekuasaan Allah, melalui mukjizat kepada Nabi Musa as, dengan terbelahnya air laut, agar Nabi Musa dan umatnya dapat melintasinya dari kejaran Fir’aun. Dan dikemudian hari, manusia menggali daratan sempit ini, agar dapat melintasi untuk pelayaran. 

DIA pun merancang hal yang sama ketika menciptakan benua Amerika, hingga mengecil pada bagian tengah, dan memudahkan manusia membangun terusan Panama. Andai tidak ada, tak terbayang berapa mahal biaya kehidupan, karena lalu lintas pelayaran lebih jauh harus melewati selat Ferdinand de Maghelan diujung selatan Argentina. 

Begitu pula, ada ayat ayat kebesaran ALLAH dengan diciptakannya laut sempit, selat Jabal Thoriq, selat yang pernah dilintasi oleh salah satu jenderal militer Islam paling disegani pada abad 8 masehi, saat mengislamkan Spanyol dan Portugal, Thoriq bin Ziyad, yang memisahkan Afrika barat dengan semenanjung Iberia Eropa barat. Tanpa selat ini, maka terusan Suez akan kurang bermanfaat bagi pelayaran dunia. 

Dan bila kita merenungkan adanya selat Dardanela dan Bosforus di Turki, selat saksi bisu saat Sulaiman Agung menaklukan Konstantinopel Romawi Timur, atau selat Bering pemisah Rusia dengan Alaska, maka sungguh ada keajaiban dari rencana Allah dalam menciptakan permukaan bumi.

Dalam konteks penciptaan alam, banyak ayat ayat Qur’an yang terkait dengan itu, diantaranya firman Allah, “Sungguh pada penciptaan alam, ada tanda tanda kekuasaan Allah, bagi kaum yang mau berfikir”. Maka, dengan memikirkan merenungi dan mencermati peta dunia pun, kita dapat kian dekat kepada Allah.