INJIL MEMBUKTIKAN BAHWA YESUS BUKAN TUHAN

Sebagai tuhan, Yesus harusnya tahu kapan hari kiamat akan terjadi. FAKTANYA, sebagai tuhan, Yesus tidak tahu kapan hari kiamat akan terjadi. Karena kata Yesus tentang hari kiamat, “Yang tahu hari dan waktunya hanya Allah Bapa”. ( MATIUS 24:29-36 ).

Sebagai tuhan, Yesus harusnya bisa menyelamatkan manusia masuk ke surga, duduk dikanan atau kiri Yesus. FAKTANYA, kata Yesus, “Perihal seseorang masuk ke surga, duduk dikanan atau kiri aku, adalah hanya hak kuasa Allah Bapa yang memberikan”. ( MATIUS 20:20-23 ).

Sebagai tuhan, Yesus harus setara selevel sederajat dengan Allah Bapa. FAKTANYA kata Yesus, “Allah Bapak lebih besar daripada aku”. ( YOHANES 14:28 ).

Sebagai tuhan, harusnya Yesus yang disembah.  FAKTANYA, Yesus malah menyembah kepada Allah Bapa. Yesus berkata kepaa muridnya, “Aku akan pergi kepada Bapa aku yang juga Bapa kamu. Kepada Allah aku yang juga Allah kamu”. ( YOHANES 20:17 ).

Itulah mengapa banyak umat Kristen di dunia hingga detik ini, tidak mengakui Yesus sbg tuhan. Seperti sekte Saksi Yehova, Mormon dan Unitarian. Padahal mereka sama sama mengimani kitab injil yang sama. Dan pada abad ke 3 – 4 masehi, faham Kristen ARIANISME di Timur Tengah juga tidak mengakui ketuhanan Yesus. Hingga memicu diadakannya sidang konsili pemimpin Kristen di kota Nicea Turki thn 325 masehi. Jadi yang dimaksud dengan tuhan yang harus kita sembah dalam injil adalah yang disebut Allah Bapa. Sedangkan Yesus hanyalah manusia 100% yang diutus oleh Allah Bapa sebagai Nabi.

MUSLIM DAN CARA PANDANG TERHADAP DUNIA

Hukum dunia sangat bisa tidak mengikat kehidupan manusia. Seseorang yang melakukan tindak pidana disuatu negara, tentu tidak akan berimplikasi hukum apapun di negara lainnya. Umumnya dia harus bertanggung jawab hanya di negara dimana dia melakukan tindak pidana. Seseorang bahkan bisa terbebas dari hukuman dunia atas kejahatan disuatu negara, jika dia memperoleh suaka dari negara lain.

Tetapi siapa pun kita sebagai muslim selama hidup, dimana pun dan kapan pun, selalu dan pasti berimplikasi dengan hukum dan akibat di akhirat. Tentang apa yang kita perbuat dan bagaimana cara pandang kita dalam menyikapi kehidupan dunia ini. Tentunya termasuk dalam hal urusan politik ekonomi dan sosial.

Setuju atau tidak, terpaksa atau tidak, disadari atau tidak, diakui atau tidak, seorang muslim akan selalu memiliki konsekuensi terhadap kehidupan di akhirat, tentang apa yang dia perbuat, dan tentang bagaimana cara pandang dia menyikapi kehidupan di dunia.

Bagi seorang muslim dalam hidupnya hanya memiliki satu falsafah yang menjadi dasar hukumnya, yaitu Quran dan sunnah Nabi yang merupakan wahyu dari Allah. Dengan Quran dan sunnah inilah seorang muslim kelak pasti akan diadili tentang apa yang telah dijalani dalam hidupnya.

Ketidaktahuan kita dengan kenyataan ini karena minimnya pengetahuan tentang keislaman, tidak bisa menjadi alasan kita terbebas dari implikasi hukum di akhirat. Allah telah memberikan kita akal pikiran dan kecerdasan. Dengan inilah kita harus ingin tahu dan mencari tahu, tentang ilmu keislaman agar kita bisa memahami bagaimana kita menjalani hidup, dan bagaimana seharusnya kita memiliki cara pandang terhadap kehidupan di dunia.

AIR MATA KEHIDUPAN

INDOSIAR MIKROFON PELUNAS HUTANG : LINGGA, AIR MATA KEHIDUPAN

Lingga lelaki beristeri, ayah beranak dua, adalah satu diantara begitu banyaknya pejuang kehidupan. Novel kehidupannya dipenuhi oleh tulisan cerita lara dan tumpahan air mata. Mungkin kita tak bisa menuntaskan membaca novel kehidupannya, karena air mata tak mampu untuk tetap tertahan di kelopak mata kita.

Pekerja serabutan yang pemilik hutang Rp 9.715.000,00 ini tak lagi sanggup membayar hutang hidupnya. Sejumlah nilai yang oleh sebagian kita bisa jadi hanya harga sebuah gadget yang digenggam. Sebuah nilai yang bagi kita mungkin mudah dan cepat mendapatkannya. Atau sebuah nilai yang begitu murahnya untuk kita belanjakan.

Kebahagiaan dunia memang mahal, kita membutuhkan upaya dan tenaga serta uang untuk memperolehnya. Sesuatu yang kita kejar dengan berlari, walau kadang harus dan atau terjatuh untuk itu. Yang terkadang pun belum tentu kita dapat meraihnya. Dan pastinya kita akan kehilangan kebahagiaan dunia, ketika kita telah mendapatkannya, oleh sebab takdir kematian.

Kebahagiaan dunia memang harus kita upayakan, bagian dari wajibnya ikhtiar dalam perjalanan hidup. Tetapi Allah tidak akan pernah menghukum kita, ketika kita tidak memperolehnya. Itulah kasihNYA, karena DIA tahu, bahwa perlu upaya dan berbiaya untuk memperolehnya.

DIA memberi kita kebahagiaan sejati, yang setiap kita bisa memperolehnya. Kebahagiaan yang tidak akan pernah berkesudahan. Yang tidak akan pernah berakhir oleh kematian lagi. Kebahagiaan yang akan bisa didapat, semiskin apa pun kita, selemah apa pun kita. Kebahagiaan dunia yang mahal dan belum tentu kita peroleh walau sudah berjuang, kita gigih mengupayakannya. Apakah kebahagiaan sejati kelak, yang siapa pun bisa meraihnya, telahkah kita upayakan?

MUHAMMAD SAW AND A’ISYAH RA

PROPHET MUHAMMAD SAW MARRIED A YOUNG AYISYAH AGE, WHY?

The marriage of Prophet Muhammad SAW with the ummul mu’minin, A’isyah ra, is the historical record in Islam, which is written as it is. Proving the source of Islamic writing has never ‘edited’ or omitted an important event for an interest. The marriage, if measured in modern times today, took place nearly 1500 years ago. The marriage is a historical fact. About how old A’isyah ra when married there are differences of opinion, 7 or 17 years. But in general and the majority write 7 years. A thing that was never covered by Islamic writers, because it is not a disgrace to the time and tradition at that time. A few years later after the marriage, A’isyah ra lived in the house with the Prophet. The marriage is God’s plan for the growth of Islam. 
A’isyah ra is an intelligent woman who became a fact in Islamic history. Thousands of hadits, which is the writing about the source of Islamic law, which comes from the words or deeds of the Prophet, narrated from A’isyah ra. There is no other wife of the Prophet who remembers the hadits  as many as remembered by A’isyah ra. Many teachings of Islam, unknown to the Companions of the Prophet, but only known by A’isyah ra, and delivered by A’isyah ra. This was possible because A’isyah was the wife of the Prophet.

A’isyah’s very young age at marriage was God’s plan for Islam. Proved because A’isyah ra lived for over half a century after the Prophet’s death. The range during that time was used by A’isyah ra, to convey the teachings of Islam to the first generation of Islam. The development of Islam is very grateful for the services of A’isyah ra. Because of the age of the four main companions of the Prophet who became khalifah, only up to 3 decades. A’isyah ra still lives long after generation 4 main friend ends. Even the other wives of the Prophet, had died when the Prophet was alive, or shortly after the Prophet’s death. Because the other wives of the Prophet, generally are widows who are elderly when married by the Prophet.

Thus, the Prophet’s marriage to A’isyah was not a disgrace. Enemy of the enemy of Islam at the very beginning of the growth of Islam, does not make this an issue to discredit Islam. And the historical record was never subsequently edited or hidden. The marriage, if measured by the present time, of course time space has been far nearly 1500 years. Marriage is God’s plan, because A’isyah also has no children from the Prophet. And after the Prophet’s death, A’isyah never married again until A’ishah died. So the marriage is not a libido factor.
#AisyahMoslemLoveYou

JAWABAN UNTUK : APAKAH ISLAM MENGAJARKAN KEKERASAN?

Stigma negatif bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan kriminalitas dalam kehidupan,  hal yang mungkin sudah biasa kita dengar. Permasalahannya adalah apakah benar Islam seperti itu? Tentu saja siapa pun sebenarnya sudah tahu, bahwa Islam tidak seperti itu.  Stigma itu muncul berangkat dari aksi kekerasan global yang terjadi pada rentang tiga dekade terakhir ini, yang selalu dikaitkan dengan keIslaman. 

Tetapi andai rentang waktu ditarik lebih mundur hingga ratusan tahun lalu,  tentu stigma itu bisa bergeser keluar Islam. Karena,  tragedi kekerasan dalam peradaban manusia secara masif dan komunal,  bisa dan pernah dipertontonkan oleh para pelaku dengan latar agama dan keyakinan apa pun. Tetapi tentu itu bukan representasi dari ajaran sebuah agama. 
Islam tidak mungkin mengajarkan umatnya boleh membunuh atau bertindak kriminal,  semisal perzinaan. Karena dalam Islam,  jelas tegas ada hukum had yang memvonis mati terhadap pelaku pembunuhan,  atau hukum cambuk atau rajam bagi pezina,  sekali pun atas dasar saling suka. Adakah hukum dunia yang menghukum pezina saling suka? Lalu bagaimana mungkin Islam menyuruh umatnya boleh membunuh dan berzina? 
Sementara potongan ayat Qur’an yang diambil secara parsial, untuk menjustifikasi bahwa Islam mengajarkan kekerasan,  adalah bentuk kebodohan dalam membaca Islam. Karena,  kitab suci agama apa pun,  jika sengaja dibaca ayatnya secara parsial, tentu bisa diinterpretasikan sekehendaknya. 
Logika termudah,  bahwa Islam mengajarkan nilai kedamaian,  dengan melihat prestasi pertumbuhan Islam.  Mari kita meneropong sejarah jauh kebelakang,  ketika Nabi Nuh as yang hidup ratusan tahun, berapa kuantitas umat yang bisa direkrut kejalan Allah dan naik perahu besar? Sanggupkah Nabi Musa as menyadarkan Fir’aun dan rakyatnya ke jalan Tuhan? 
Ketika Nabi Isa as bin Maryam ra wafat, berapa umat yang terpanggil?  Masih minoritas,  hingga menjadi korban pembantaian oleh bangsa Yahudi dan Romawi. Barulah pada abad 4 M, agama Kristen kian mengglobal setelah kaisar Romawi, Konstantinus,  memeluk Kristen dan menjadikannya sebagai agama resmi di Romawi. 
Sementara Islam,  ketika Nabi Muhammad SAW wafat setelah 23 tahun berdakwah, dimana syariat Islam telah finish dan Qur’an telah diwahyukan secara menyeluruh, penduduk semenanjung Arabia,  khususnya Mekah dan Madinah, telah meninggalkan paganisme dan tradisi kejahiliyahan. Dan mayoritas telah memeluk agama Islam. 
Fakta dan prestasi pertumbuhan Islam itu mustahil bisa terjadi, seandainya Islam mengajarkan kebencian permusuhan dan kekerasan. Apalagi fihak yang menuding Islam mengajarkan kekerasan, pada sisi lain juga sinis memandang Islam sebagai agama yang mensyaratkan umatnya beramal kebaikan jika ingin masuk surga. 
Jika yakin dengan konsep keselamatan dalam Islam,  bahwa muslim harus beribadah dan memperbanyak amal soleh agar masuk surga, lalu bagaimana mungkin menuduh Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat kekerasan? Jelas ada standar ganda dalam melihat Islam
Alasan eksistensi ISIS dengan kekerasannya,  dikaitkan dengan ajaran Islam, tentu kebodohan yang menggelikan. Karena ISIS muncul lebih kolaborasi kepentingan ekonomi politik dan industri senjata, dengan memanfaatkan simbol keislaman untuk membangkitkan semangat juang kelompok ISIS. Mainstream Islam pun jelas, tidak pernah berdiri mendukung ISIS. 
Fakta sejarah tentang peperangan yang melibatkan umat Islam, menghadapi penentang penentang Islam diawal pertumbuhan Islam,  adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Yang terjadi karena situasi dan kondisi saat itu mengharuskan seperti itu. Dari peperangan itu pula,  memunculkan hukum Islam seperti perlakuan terhadap tawanan perang,  harta pampasan perang dan etika dalam berperang,  yang kemudian sejalan dengan konvensi Jenewa tentang peperangan.
Jelas dan tentu,  tidak pernah ada klausal hukum dalam Islam,  yang mengajarkan umatnya untuk melakukan kekerasan. Jika kemudian ada benturan sosial yang terjadi dikaitkan dengan Islam. Itu karena Islam agama yang mengatur detail kehidupan. Seperti larangan minuman keras,  berjudi atau berzina dll,  yang justru diera modern ini sesuatu yang legal dan biasa serta menjadi industri bisnis.

ANIS BASWEDAN UNTUK JAKARTA

Kemenangan Anis Baswedan dalam Pilkada Jakarta,  adalah buah dari akumulasi kekecewaan umat Islam atas realita sosial politik dan hukum yang memang sangat bisa dirasa dilihat didengar.  Gigit jari untuk pendapat bahwa warga Jakarta sangat rasional akan mengabaikan isu agama. 

Tidak ada isu yang bisa membangkitkan dan menyatukan emosional manusia, kecuali isu agama. Ini yang selalu kita nafikan. Dan kini isu agama terlihat dan membenarkan kemenangan Anis Baswedan. Mulut bisa diam,  telinga bisa ditutup,  tetapi hati dan pikiran serta keyakinan tak pernah bisa diterobos diubah dengan kampanye verbal dan visual. 

Hasil Pilkada DKI tentu menjadi evaluasi dan pembelajaran bagi presiden Jokowi,  jika ingin bertarung di pilpres 2019. Kini mulai harus dipikirkan,  tentang siapa teman siapa lawan dan bagaimana kebijakan harus diputuskan. Rakyat memiliki kekuatan dan kekuasaan saat berada didalam bilik suara. 

Demokrasi adalah tentang satu orang satu suara,  tanpa melihat apa pun alasan dan latar seorang dalam memilih. Banyak pembelajaran yang bisa diambil dari hasil Pilkada Jakarta. Jangan pernah melukai dan mengecewakan perasaan. Jangan abaikan suara mayoritas.  Dan yang terutama jangan pernah meremehkan isu keagamaan. 

#Alhamdulillaah

#SujudSyukur

#Almaidah51A

ZAKIR NAIK AND THE TRUTH OF ISLAM

Da’wah delivered an Zakir Naik, so elegant and very seductive curiosity of many people. Preaching are open to anyone, our curiosity with his message can we find them via the touch of fingers on gadget touchcreen.

Highly digestible preaching to understand. Intelligence in arguing and explaining a question, we can prove through cyberspace, not hidden or concealed. Should a Muslim do not believe in the teachings of Islam because of sheer destiny birth. But because I know understand and believe.
Da’wah delivered Zakir Naik is about the truth of the teachings of Islam that is not in doubt. Islam as a concept and doctrine, so rational and very understandable and justified in the context of the logic of faith.
What is offered Islam forgiveness of human sin, about the safety of life in the hereafter, about social life in the world, very rational and truly in logic of faith. Very inexplicable in the human mind.
The climax of rasionalias truth of Islam is the concept of God in their Muslim faith, which is so beautiful and very easy to be understood human. Only one God is above all else in Islam. And Muhammad’s prophethood is explained about what and how Islam.
Of course also the figure of Muhammad SAW became an important part in the course of Islam. Muhammad SAW exemplary life, his marriage with several women. And of his marriage with A’isyah that young age, it is a must that blends with the concept of Islamic teachings.
For a Muslim who has the ideology of Islam, would make Islam the hands of his life. And difficult release it, until one when it arrives at the end of a life time. And make Islam as a record of his life in facing the creator of the universe, GOD.