FITNAH DUNIA DIAKHIR MASA

Hal fitnah itu semisal seseorang yang dibebankan tuduhan menumbangkan pohon besar. Bukankah dia tak memiliki kapak? Dengan apa menumbangkannya? Bukankah dia telah menempuh jalan jauh, dan tak sebatang pun ranting kecil di jalan yang pernah dipatahkannya.
Bergemuruhlah fitnah dari ujung ke ujung. Hingga kita seperti sukar membedakan kejujuran dan dusta. Maka kecelakaanlah bagi mereka yang tidak bertawakal kepada Allah dalam mendengar dan melihat.

Maka tiba pula masa, ketika kejujuran semisal seseorang yang dipaksa diikat lalu ditenggelamkan ke lautan dalam. Tetapi orang banyak takjub dan berkata, “Lihat dia yang ditenggelamkan telah berdiri kembali diatas puncak gunung”.

Maka, itulah masa dimana kejujuran didustai, dan dusta dibenarkan. Maka kecelakaanlah bagi mereka yang percaya dengan dusta, dan enggan mendengar kejujuran. Maka ujilah perkataan, bagaikan pedagang yang menimbang emas diatas neraca.

Ketidakadilan pun meriuhkan zaman, semisal seseorang pekerja yang dengan letihnya menyelesaikan pekerjaannya, tetapi tidak diberi hak upahnya. Dan orang yang berpangku tangan tak berbuat, diberi upah yang bukan haknya. Maka tegakanlah keadilan sekali pun terhadap seorang musuh.

Tiba pula masa, ketika kemaksiatan dibiarkan, seperti seorang ibu yang membiarkan anak balitanya bermain ditepian sungai. Dan membenci kebenaran, seperti seseorang yang diberi keleluasaan melampiaskan dendamnya, kepada musuh yang sudah terkulai.

Maka tetaplah menyeru kebenaran, hingga tiada lagi orang yang mau mendengarkan kecuali diri kita sendiri. Maka jangan pernah hilang asa dan berduka dengan dunia. Karena kelak ada kehidupan abadi, ketika api dinyalakan dengan sangat membakar. Dan ada pula naungan kasihNYA hanya bagi orang orang terpilih.

GENTING

Jangan ragu, Pancasila itu dasar negara, warga yang dalam hatinya pun tidak mengakui palsafah Pancasila, pasti secara lahiriah akan tetap taat dan tunduk kepada aturan negara. Sama seperti pemeluk agama X, dalam hatinya bisa saja tidak mengakui agama Y, tetapi yang penting secara lahiriah saling mengakui dan menghormati. Dan hati, pikiran juga keyakinan tidak bisa didakwa dihukum. Jadi tidak perlu mempermasalahkan dan mengkhawatirkan Pancasila sebagai dasar negara. 
Apa pun latar seorang WNI, rasanya mayoritas akan dan tetap mendukung menginginkankan Indonesia tetap NKRI. Tidak ada alasan untuk membuat Indonesia pecah. Jangan mengambil contoh Irak Afghanistan Suriah Yaman Yugoslavia atau Uni Soviet. Karena mereka ya mereka, sedang Indonesia adalah kita. Jangan seolah olah kitalah yang paling pejuang menjaga NKRI. NKRI itu sudah harga mati, tidak perlu jadi isu kekhawatiran.

Intoleransi? Jika ada masif dan tumbuh subur, mungkin gereja Katedral sudah roboh. Dan mungkin masjid Istiqlal tidak dibangun berhadapan dengan Katedral. Dan mungkin jutaan muslim tidak berwisata ke Borobudur Prambanan. Adakah kasus terkini korban pembunuhan karena motivasi beda agama? Yang ada malah teroris muslim membunuh melukai polisi yang juga muslim sedang sholat.

Adakah ormas yang membunuh karena perbedaan agama? Adakah ormas yang platformnya kekerasan? Jika ada ormas yang pernah melakukan kekerasan, pasti lebih dari satu ormas, kekerasan karena persaingan bisnis atau sentimen antar individu. Dan itu bisa diselesaikan oleh aturan hukum.

Pikirkan dan renungkan, sudahkah situasi segenting yang dikhawatirkan? Lebih tujuh dekade Indonesia merdeka, dan terbukti Pancasila tetap dasar negara. Dan NKRI tetap utuh bersatu. Jika pun Timor Timur lepas, kemudian pernah ada gejolak di Aceh dan Papua, bukan oleh sebab ormas ormas yang dikhawatirkan.

TERORIS BUKAN JIHAD BUKAN ISLAM

Pelaku teroris sepertinya harus diinterogasi oleh MUI, ditanya alasannya apa dan mengapa. Aneh saja jika aksi mereka atas nama dan berangkat dari semangat jihad. Dan sangat aneh jika masih saja ada orang yang bisa dan mau direkrut menjadi teroris. 
Bisa jadi aneh, karena :

1. Ada yang jelas dituduh menghina Islam, tetapi tetap aman dan sehat wal’afiat.

2. Banyak yang dituduh menghina ulama, juga tetap aman dan sehat wal’afiat.

Lah, polisi muslim sedang sholat didalam masjid, bisa bisanya kok yang menjadi sasaran untuk diserang dilukai. Ini logika jihadnya dimana? Ingat dengan bom dalam masjid di Polres Cirebon beberapa tahun lalu, ini juga logika jihad yang sangat ngawur. Apalagi andai benar, konon pelaku teror akan membom cafe restoran dan gereja, ini sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan jihad.

Jelas aksi pelaku tersebut adalah kriminal murni, bukan jihad. Jika pelakunya tewas oleh bom atau ditembak polisi, jelas akan masuk neraka jahanam dan kekal. Sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa orang yang mati dengan cara bunuh diri atau membunuh manusia, akan kekal dalam neraka.

Apalagi jika alasan menyerang polisi karena dendam, sangat bukan lagi jihad. Itu kriminal yang sangat konyol. Ali bin Abi Tholib ra, pernah di perang jihad nyata, hampir bisa membunuh musuhnya, tetapi saat pedang akan ditebas, musuh meludahi Ali ra, hingga tidak jadi dibunuh hanya karena khawatir Ali ra membunuh karena dendam diludahi.

INTOLERANSI DAN ANTI KEBHINNEKAAN, ADAKAH?

Isu yang meriuhkan Indonesia, yang secara fakta bisa jadi tidak ada, dan sepertinya memang tidak ada. Tetapi untuk suatu kepentingan, isu ini seperti diblow up, sehingga dirasa bahwa bangsa ini sedang darurat intoleransi dan marak anti kebhinnekaan.
Hingga terkadang dibuatlah pesan iklan toleransi untuk diviralkan. Tapi alih alih untuk mengkampanyekan hidup toleransi, yang ada malah dikhawatirkan menjadi kontra produktif.

Diakar rumput, kita bisa menemukan fakta, perbedaan yang memang nyata, tidak ada membuat kita menjadi anda dan aku. Justru anda dan aku tetap menjadi kita, sejak dahulu hingga kini, dan tentu seperti itu harapan kita kedepannya.

Saat beberapa kali aksi berjuta umat digelar disekitaran masjid Istiqlal Jakarta, adakah tumbuhan yang terinjak di halaman gereja Katedral? Rubuhkah pagar gereja Katedral? Gedung Katedral dan bangunan Istiqlal nyatanya tetap berhadapan saling senyum dan melambai. Dimana fakta intoleransi ada?

Di Papua, di Bali, di Bangka Belitung, di Aceh, secara umum adakah perbedaan membuat kehidupan berbatas? Berdinding? Berkotak kotak? Berdarah darah? Lalu adakah fakta untuk menguatkan kita sebagai bangsa sedang darurat intoleransi dan anti kebhinnekaan?

Kita berharap, kegagalan dan patahnya ambisi kepentingan politik, tidak digeser menjadi isu seolah sedang darurat intoleransi dan anti kebhinnekaan. Masyarakat secara umum kita lihat dan rasa, hidup melambai dan bergandengan tangan.

Stop isu dan provokasi seolah kita sedang darurat intoleransi dan anti kebhinnekaan. Peristiwa politik harus dilihat tetap dalam konteks politik. Istiqlal, Katedral, Borobudur, Prambanan, Pura Besakih tetap berdiri kokoh. KH Hasyim Ashari, Christina Martha Tiahahu dan I Gusti Ngurah Rai, tetap menjadi pahlawan Nasional kita.

PERGINYA KEKASIH HIDUP

PERGINYA KEKASIH HIDUP

Hanya tinggal sesaat saja waktu akan berlalu, kebersamaan ini pun berakhir telah. Dia memang selalu datang lalu pergi. Dia memang akan datang dan berulang. Tetapi apakah kita masih bisa diberi waktu oleh DIA jika dia kembali datang?

Berbahagialah kita yang merindukan bila dia datang, bercengkerama dalam kesyahduan ridoNYA. Bergumul dalam kekhusyuan memeluk maghfirohNYA. Waktu itu memang hanya sesaat datang dan diberikan olehNYA untuk umatNYA yang terpilih.

DIA memberi hitungan kebaikan yang tak terbilang untuk kita. Memberi keluasan ampunan yang tak terukur oleh kesanggupan kita. Bahkan dalam satu hari diwaktu kedatanganya, ada ukuran dan takaran yang bisa melebihi seumur hidup kebaikan kita.

Dibawah ketinggian langit biruMU, kami selalu merindukan kedatangannya. Di kesenyapan malam rahmat, kami mencium bumiMU. Begitu banyak yang kami pinta dalam bisikan doa. Kami memang melakukan banyak kekurangan padaMU, tetapi sungguh ampunanMU menutupi kekurangan kami.

WAKTU YANG MEMBATASI

Kekuasaan memang bisa berdusta dan mengalahkan, ketika menindas yang lemah yang tanpa daya, hingga berkuasa dengan merajalela, tetapi kekuasaan bukanlah tirani yang tak berujung. Karena waktu muncul sebagai kekuatan yang bisa mengalahkan. Bukankah waktu selalu memberi batas dan bisa mengakhiri segala yang ada?
Dunia memang tempat untuk bersembunyi, karena segala dusta bisa dibuat lalu disembunyikan. Tetapi waktu, lagi lagi menjadi kekuatan, karena waktu bisa memberi tahu apa yang tersembunyi. Apa yang sekarang adalah disembunyikan, maka oleh waktu, nanti atau kelak akan diperlihatkan.

Perlukah dan haruskah kita arogan ketika memiliki kekuasaan? Haruskah kita berdusta untuk menjadi pemenang yang sementara? Keadilan memang bisa dibuat menjadi ketidakadilan. Tetapi sungguh, arogansi dusta dan ketidakadilan selalu meninggalkan jejak jejak di jalan waktu. Jejak itu akan dilihat dan diingat dalam hitungan waktu.

Waktu selalu bisa mengubah, dan kita telah dan selalu belajar dari waktu yang telah berlalu. Waktu bisa memutar roda kehidupan tentang atas dan bawah. Waktu bisa mengubah tentang kuat dan lemah. Waktu pun membuat gelak tawa menjadi tangisan lara. Jika kita akan dikalahkan oleh waktu, dan pasti akan kalah, masihkah kita berpura pura lupa bahwa waktu kelak akan mengalahkan.

SUBYEKTIFITAS DITENGAH KEGADUHAN SOSIAL

Kita tidak mungkin bisa netral dan obyektif, menghadapi situasi kondisi sosial yang kini paling masif terjadi di Indonesia, pasca reformasi. Sentimen politik dan keagamaan, adalah kolaborasi kuat yang bisa memaksa seseorang untuk ikut arus rasa subyektifitas tersebut.
Apa pun latar dan motifnya, rasa suka atau tidak suka pasti ada seminimal apa pun, terhadap fihak A B C atau D. Sifat subyektifitas yang muncul dalam diri, akan menunjukan dan mewakili siapa kita ini. Tetapi sifat subyektifitas tersebut sebagai manusia, harus dicarakan diterjemahkan secara elegan dan proporsional.

Apalagi jika kita berpendidikan tinggi, sangat tidak elegan jika ketidaksukaan kepada salah satu fihak, diungkapkan dengan ucapan atau tulisan yang tidak berpendidikan, yang bisa kian meriuhkan dan menggaduhkan situasi kondisi. 

Tetapi kita yakin, akan selalu ada solusi yang baik atas setiap permasalahan yang muncul untuk menyelesaikannya. Andai pun solusi itu belum bisa kita peroleh, maka waktu yang terbatas akan mengakhirinya sebagai solusi. Kehidupan dan kekuasaan di dunia bukanlah ruang keabadian, karena akan berakhir dan berganti. Sejarah telah membelajarkan itu untuk kita.