PERGINYA KEKASIH HIDUP

PERGINYA KEKASIH HIDUP

Hanya tinggal sesaat saja waktu akan berlalu, kebersamaan ini pun berakhir telah. Dia memang selalu datang lalu pergi. Dia memang akan datang dan berulang. Tetapi apakah kita masih bisa diberi waktu oleh DIA jika dia kembali datang?

Berbahagialah kita yang merindukan bila dia datang, bercengkerama dalam kesyahduan ridoNYA. Bergumul dalam kekhusyuan memeluk maghfirohNYA. Waktu itu memang hanya sesaat datang dan diberikan olehNYA untuk umatNYA yang terpilih.

DIA memberi hitungan kebaikan yang tak terbilang untuk kita. Memberi keluasan ampunan yang tak terukur oleh kesanggupan kita. Bahkan dalam satu hari diwaktu kedatanganya, ada ukuran dan takaran yang bisa melebihi seumur hidup kebaikan kita.

Dibawah ketinggian langit biruMU, kami selalu merindukan kedatangannya. Di kesenyapan malam rahmat, kami mencium bumiMU. Begitu banyak yang kami pinta dalam bisikan doa. Kami memang melakukan banyak kekurangan padaMU, tetapi sungguh ampunanMU menutupi kekurangan kami.

WAKTU YANG MEMBATASI

Kekuasaan memang bisa berdusta dan mengalahkan, ketika menindas yang lemah yang tanpa daya, hingga berkuasa dengan merajalela, tetapi kekuasaan bukanlah tirani yang tak berujung. Karena waktu muncul sebagai kekuatan yang bisa mengalahkan. Bukankah waktu selalu memberi batas dan bisa mengakhiri segala yang ada?
Dunia memang tempat untuk bersembunyi, karena segala dusta bisa dibuat lalu disembunyikan. Tetapi waktu, lagi lagi menjadi kekuatan, karena waktu bisa memberi tahu apa yang tersembunyi. Apa yang sekarang adalah disembunyikan, maka oleh waktu, nanti atau kelak akan diperlihatkan.

Perlukah dan haruskah kita arogan ketika memiliki kekuasaan? Haruskah kita berdusta untuk menjadi pemenang yang sementara? Keadilan memang bisa dibuat menjadi ketidakadilan. Tetapi sungguh, arogansi dusta dan ketidakadilan selalu meninggalkan jejak jejak di jalan waktu. Jejak itu akan dilihat dan diingat dalam hitungan waktu.

Waktu selalu bisa mengubah, dan kita telah dan selalu belajar dari waktu yang telah berlalu. Waktu bisa memutar roda kehidupan tentang atas dan bawah. Waktu bisa mengubah tentang kuat dan lemah. Waktu pun membuat gelak tawa menjadi tangisan lara. Jika kita akan dikalahkan oleh waktu, dan pasti akan kalah, masihkah kita berpura pura lupa bahwa waktu kelak akan mengalahkan.

SUBYEKTIFITAS DITENGAH KEGADUHAN SOSIAL

Kita tidak mungkin bisa netral dan obyektif, menghadapi situasi kondisi sosial yang kini paling masif terjadi di Indonesia, pasca reformasi. Sentimen politik dan keagamaan, adalah kolaborasi kuat yang bisa memaksa seseorang untuk ikut arus rasa subyektifitas tersebut.
Apa pun latar dan motifnya, rasa suka atau tidak suka pasti ada seminimal apa pun, terhadap fihak A B C atau D. Sifat subyektifitas yang muncul dalam diri, akan menunjukan dan mewakili siapa kita ini. Tetapi sifat subyektifitas tersebut sebagai manusia, harus dicarakan diterjemahkan secara elegan dan proporsional.

Apalagi jika kita berpendidikan tinggi, sangat tidak elegan jika ketidaksukaan kepada salah satu fihak, diungkapkan dengan ucapan atau tulisan yang tidak berpendidikan, yang bisa kian meriuhkan dan menggaduhkan situasi kondisi. 

Tetapi kita yakin, akan selalu ada solusi yang baik atas setiap permasalahan yang muncul untuk menyelesaikannya. Andai pun solusi itu belum bisa kita peroleh, maka waktu yang terbatas akan mengakhirinya sebagai solusi. Kehidupan dan kekuasaan di dunia bukanlah ruang keabadian, karena akan berakhir dan berganti. Sejarah telah membelajarkan itu untuk kita.

KETIKA MEDIA MENGUBAH

Era dan kehidupan, hampir tak bisa melepaskan diri dari media informasi dan komunikasi. Media telah membawa banyak perubahan besar dalam kehidupan. Media dapat membuat bingkai image di jendela kehidupan, inilah situasi yang terkadang membuat kita ada diposisi ambivalen terhadap eksistensi media.

Media dapat menjadi alat bagi promosi dan degradasi dalam kehidupan. Seseorang siapa pun dengan idealis berpretasi, bisa bukan apa apa tanpa blow up media. Seorang siapa pun yang oportunis, bisa menjadi segalanya berkat blow up media. 

Fenomena fakta demikian ada dilingkaran kehidupan ini. Oleh media, seorang dari antah berantah, dalam seketika dapat menjadi orang yang wah. Oleh media, ketinggian seseorang bisa saja dijatuhkan. Konspirasi dan rekayasa kehidupan bisa dibangun dengan media pun, bisa menjadi sebuah keniscayaan.

Media berada digarda terdepan bagi pembentukan sebuah opini dan perubahan. Tetapi Media, bukan untuk diingkari, juga tak perlu sangat diterpanai. Tapi disikapi dengan sebuah kritis dalam membaca, mendengar dan menyimaknya.

#SayNotForPlagiat

WARISAN

Setiap manusia tanpa terkecuali, dilahirkan dimana atau bagaimana pun, memang dengan tak pernah bisa memilih. Dan ini bisa disebut sebagai warisan dari sana, yang harus kita terima. Tetapi, DIA pun memberi kita warisan yang lebih, yaitu akal kecerdasan.
Sehingga warisan diawal kehidupan, yang kita tidak pernah bisa memilih dan menolaknya, tetapi kita sangat bisa dan memiliki hak prerogatif untuk mengubahnya dikemudian hari, dengan warisan akal kecerdasan yang kita peroleh.

Sehingga hidup pun berdinamika muncul dengan keragamannya. Seorang muslim yang terlahir dari keluarga muslim, tidak terpenjara untuk hidup terus dengan kemuslimannya, karena dia kelak bisa memilih menjadi seorang non muslim. Begitu pula, seorang yang terlahir karena warisan dari keluarga non muslim, kelak bisa pula mengubahnya menjadi seorang muslim. Karena kita telah dibekali warisan akal kecerdasan, untuk bisa mencari tahu tentang kebenaran jalan hidup.

Kita yang terlahir dengan warisan tanpa sehelai benang pun, kelak bisa hidup dengan memilih berselimut pintalan benang yang menutup aurat tubuh. Tetapi, bisa pula kita memilih untuk hidup dari hasil tanpa sehelai benang pun. Kita yang terlahir tanpa apa apa, kemudian karena akal bisa memiliki segala apa apa, atau bisa pula hidup tidak memperoleh segala apa apa.

Asal hidup memang warisan dari DIA yang tanpa pernah bisa kita pilih,   tetapi DIA pun memberi warisan berupa akal kecerdasan kepada kita, agar dengan itu kita bisa mengubah warisan awal hidup. Karena setiap kita, kelak pasti akan mempertanggungjawabkan tentang jalan hidup di dunia yang bisa kita ubah, saat disidang pengadilan akhirat dihadapan DIA.

Seorang muslim diwajibkan, untuk menghargai dan menghormati segala perbedaan, karena kebhinnekaan memang adalah sunatullah warisan dari DIA. Itulah mengapa seorang Abu Lahab yang non muslim dan jelas memusuhi Islam, tidak pernah mati dibunuh oleh kaum muslim dizaman Nabi.

Atau dizaman terkini, Ahok yang divonis melalui pengadilan legal dibawah konstitusi, dinyatakan bersalah menistakan agama Islam, tidak pernah mengalami kekerasan fisik karena dugaan kesalahannya. Karena memang Islam tidak mengajarkan demikian. Lalu jika muncul tragedi ‘bom panci’ yang mematikan, maka harus ditanyakan langsung kepada para pelakunya, kenapa alasannya? Jangan mencari jawabannya dalam ajaran Islam.

Semangat menghormati kebhinnekaan dan toleransi hidup, harus terus dibangun. Dan telah ada dan dicatat dalam ajaran dan sejarah Islam. Toleransi juga termasuk menghargai hak hak pemeluk suatu agama, untuk membela atas perlakuan seseorang yang diduga telah menistakan suatu agama, untuk diproses secara hukum. Dan aksi tuntutan itu tentu saja sama sekali bukan bentuk anti kebhinnekaan. Bentuk toleransi juga bisa diterjemahkan dengan bagaimana kita mengelola tentang ucapan perbuatan dan kebijakan kita, untuk tidak menyinggung keimanan seseorang yang sangat sensitif.

ALFATIHA DALAM SHOLAT YANG TUMANINAH

Membaca fatiha dalam sholat adalah syarat sah, sangat jelas berdasar hadits sangat shohih dari Bukhori dan Muslim. Yang unik dan mungkin luput dari keingintahuan kita adalah, mengapa surat Fatiha saat dibaca perlahan, seperti rokaat 3 dan 4 dibaca dengan cepat, bahkan ada yang dibaca dengan durasi sangat cepatnya.
Sementara pada saat dibaca nyaring semisal Subuh, Fatiha dibaca dengan tartil ayat per ayat. Adakah hadits yang memerintahkan perbedaan cara membaca tartil saat dibaca nyaring, menjadi dibaca cepat saat dibaca perlahan? Tentu saja jelas tegas tidak akan pernah ada dalilnya.

Secara umum dalilnya sangat rajih, membaca Qur’an harus tartil dan ayat per ayat, berdasar Qur’an dan hadits shohih. Jika tidak ada dalilnya, mengapa ada perbedaan durasi cara membaca, yaitu tartil saat dibaca nyaring menjadi cepat hingga sangat cepat saat dibaca perlahan?

Persoalannya bisa jadi karena perbedaan dibaca dengan suara nyaring dan perlahan. Dengan dibaca nyaring tentu terdengar oleh makmum, maka imam memiliki rasa ranggung jawab untuk membaca dengan tartil dan benar.

Ketika dibaca perlahan, karena tidak terdengar oleh makmum. Maka bisa saja rasa tanggung jawab itu berkurang. Toh kekeliruan karena sangat cepatnya membaca, tak akan terdengar oleh makmum.

Padahal kita sangat faham, bahasa Qur’an memiliki aturan tata cara baca yang khas. Ada panjang pendek, dan pelafalan makhroj yang benar. Karena banyak huruf Qur’an yang hampir mirip bunyinya, semisal jim zay zho, dal dzal, tsa sin syin shod atau alif ‘ain.

Durasi baca yang sangat cepat, tentu sangat rentan terpeleset dalam aturan berdasar ilmu tajwid. Apalagi seorang imam harus memahami, ada banyak makmum dibelakang dengan level kebisaan yang berbeda dalam membaca Qur’an. Sementara dalil bahwa ‘bacaan makmum ditanggung oleh imam’ adalah hadits dhoif.

Marilah kita budayakan dan biasakan, membaca Fatihah saat dibaca perlahan dalam sholat, dibaca persis sebagaimana membacanya pada rokaat nyaring, semisal rokaat pertama dan kedua sholat Maghrib dan Isya, tartil ayat per ayat. Walau makmum tak mendengar, bukankah Allah maha mendengar?

Andai membaca Fatiha boleh dan bisa dengan super cepat, mengapa ada sebagian imam mempraktekannya hanya saat dibaca perlahan? Mengapa tidak dipraktekan saat dibaca nyaring yang didengar makmum?

Jika kita belajar dan merenungi serta memahami hadits hadits shohih seputar tata cara sholat, maka kita bisa saja sering menangis, melihat tata cara sholat yang mungkin biasa kita kerjakan.

Hadits atsar shohih menceritakan, sahabat Nabi, Hudzaifah ra, melihat seseorang sholat dengan cepatnya, dan ditanya, “Sudah berapa lama anda sholat?”, jawab orang tersebut, “Sudah bertahun tahun”. Maka jawab Hudzaifah ra, ” Anda belum sholat, jika anda wafat maka wafat diluar ajaran Muhammad SAW”.

Ibadah sholat tentu diterima tidaknya disisi Allah, kita tidak akan pernah tahu. Tetapi kita sangat tahu, syarat ibadah diterima adalah niat ikhlas karena Allah, dan kaifiatnya berdasar yang diajarkan Nabi. Jika caranya saja secara kasat mata sudah tidak mencontoh sunah, masihkah kita optimis berkata, “Soal ibadah sih, urusan kita dengan Allah, diterima tidaknya ya hanya Allah yang tahu”.

Berapa lama durasi berdiri Nabi saat sholat? Menurut hadits shohih riwayat Muslim, dari Abi Sa’id Alkhudri, “Saat sholat Zhuhur, di rokaat 1 dan 2, Nabi berdiri kira kira selama membaca surat Assajadah. Sedangkan durasi lama berdiri rokaat 3 dan 4, setengah dari lama berdiri rokaat 1 dan 2. Saat sholat Ashar, durasi lama berdiri rokaat 1 dan 2, setengah dari lama berdiri rokaat 3 dan 4 saat Zhuhur. Dan rokaat 3 dan 4 setengah lama berdiri rokaat 1 dan 2.

Bayangkan ! Durasi lama berdiri Nabi saat rokaat 1 dan 2 Ashar hanya setengah dari durasi lama berdiri rokaat 3 dan 4 Zhuhur. Ini pesan sangat jelas bahwa saat Nabi membaca fatiha di rokaat 3 dan 4, tidak dibaca cepat apalagi sangat cepat. Dan dari beberapa hadits shohih, boleh membaca surat lainnya sesudah Fatiha pada rokaat 3 dan 4.

#SholatTumaninah

#BacaQuranTartil

BOM BUNUH DIRI, JIHAD DAN ISLAM

Setelah ‘vakum’ tanpa teror, teror (itu) kembali mengguncang rasa dan emosi kemanusiaan. Serangan serius dan mematikan (kembali) menyasar jantung Jakarta. Darah kembali berceceran, nyawa pun menghilang.

Pelaku memang belum teridentifikasi. Tetapi, belajar dari insiden semisal ini, pelaku pada akhirnya selalu mengklaim dan mengusung simbol keIslaman. Saatnya kini, seluruh muslim satu dalam sepakat, mengutuk mengecam aksi biadab tidak beragama ini. Tidak boleh umat Islam bersikap dua kaki dalam menyikapi insiden ini.

Umat muslim tidak boleh terpana, oleh klaim simbol Islam yang (selalu) diusung pelaku teror. Biarkan fihak keamanan bekerja dan mengungkap para pelaku. Siapa dan apa pun alasan pelaku (nantinya), tidak bisa menjadi justifikasi untuk bersimpati terhadap para pelaku.

Agenda para pelaku dengan insiden semisal ini di Indonesia, apakah berhasil selama ini? Negara Islam? Syariat Islam? Siapa yang pada akhirnya menjadi korban dengan insiden semisal ini?

Jika umat Islam selalu bersikap dua kaki dalam menyikapi serangan kekerasan ini,  dalam artian bersimpati terhadap pelaku, dan apriori dengan kinerja keamanan, salahkah jika kemudian stigma teror(is) selalu dialamatkan kepada umat Islam?

Jika kita tidak puas dengan sistem kehidupan yang tidak Islami. Jadilah individu muslim yang taat kepada Allah dan Rosulullah, tanpa melakukan teror dalam kehidupan. Dengan sistem kehidupan yang jahiliyah pun, kita tetap bisa masuk surga, tanpa harus menumpahkan darah orang lain.

Aksi aksi meledakan bom dengan biadab seperti di Manchester dan Jakarta, sekali pun mengusung simbol dan motivasi keislaman,  jelas cara dan target sasarannya sangat tidak masuk akal jika dikaitkan dengan jihad.

Pelaku bom bunuh diri dengan motivasi apa pun, jelas menurut hukum Islam, pelakunya akan kekal didalam neraka. Dalam hadits shohih jelas, “(Tidak akan masuk surga) kekal didalam neraka orang yang mati karena bunuh diri”. 

Dalam sikon peperangan saja, Islam memiliki konstitusi yang melarang membunuh orang yang tidak terlibat dalam peperangan. Tidak boleh merusak bangunan tempat ibadah mana pun dan pepohonan. Tidak boleh membunuh musuh yang sudah menyerah. Jadi, tidak akan pernah ditemukan dalam konstitusi Islam, pasal yang bisa menjadi justifikasi bahwa bom bunuh diri adalah jihad.