ADZAN

Iklan

JIHAD DAN BOM BUNUH DIRI

Aksi jihad dengan cara bunuh diri, tidak ada presedennya dalam sejarah Islam dizaman nabi dan para sahabat beliau. Malah ada kisah seseorang dalam peperangan dizaman Nabi, dia terbunuh oleh musuh. Para sahabat menyangka dia syahid dan masuk surga. Tetapi Nabi menjelaskan bahwa dia masuk neraka, sebab dia sengaja membiarkan dirinya agar terbunuh oleh musuh, hukumnya mati bunuh diri. Dan dalam Islam jelas dan tegas berdasarkan hadits shohih, orang yang mati bunuh diri dengan dalih jihad, hukumnya adalah kafir, karena menentang takdir Allah dan akan kekal dalam neraka.

Andai bunuh diri agar musuh terbunuh diperbolehkan, tentu akan pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi. Faktanya, jihad dengan cara bunuh diri tidak pernah kita temukan presedennya dalam sejarah Islam. Dalam Islam sangat terang benderang hukum berperang, haram membunuh musuh yang sudah menyerah. Musuh yang tertawan pun harus diperlakukan secara manusiawi. Lalu bagaimana mungkin orang yang bukan musuh dan tidak memerangi Islam, menjadi target bom bunuh diri? Dalam sikon peperangan saja, Nabi Muhammad SAW melarang merusak tempat ibadah agama lain, dan melarang membunuh anak anak dan kaum wanita. Jelas kita pastikan, orang yang melakukan aksi seperti itu, adalah manusia tidak beragama. Siapa pun pelakunya, apa pun motifnya, siapa pun aktor intelektualnya, pelaku tersebut jelas kafir dan kekal dalam neraka.

Bahkan Abu Lahab, gembong musyrikin, pembenci Islam dan musuh utama Nabi, mati tidak terbunuh oleh kaum Muslim, tetapi Abu Lahab mati karena sakit. Jika Islam mengajarkan boleh membunuh orang kafir, maka Abu Lahab harusnya mati terbunuh. Pembunuhan yang diperbolehkan dalam Islam adalah dimedan peperangan, karena hanya ada dua opsi, membunuh atau terbunuh. Atau seseorang yang mempertahankan hak miliknya yang akan dirampas oleh pencuri.

Jadi klaim bahwa bunuh diri bisa dijadikan cara untuk jihad, jelas sesat dan menyesatkan. Tidak akan pernah kita menemukan dalam Qur’an atau hadits shohih, satu kata pun yang bisa menjadi argumen, bahwa kaum Muslim boleh membunuh orang diluar Islam. Dan tidak ada argumen satu kata pun, bahwa bunuh diri bisa menjadi cara untuk jihad. Andai ada ajaran seperti itu, akan terlalu banyak umat muslim yang melakukan pembunuhan. Orang yang mengaitkan jihad dengan cara bunuh diri adalah bagian dari ajaran Islam, sama bodohnya dengan pelaku yang mau melakukan bunuh diri dengan dalih jihad. Jika ada fihak yang bisa membuktikan dalam Qur’an dan hadits shohih, bahwa muslim boleh membunuh non muslim, maka saya akan keluar dari Islam. Dan memang argumen seperti itu tidak akan pernah ada dalam Qur’an dan hadits shohih.

HEAD TO HEAD ROAD TO PRESIDENT 2019

Dalam hitungan sekitar satu tahun dari sekarang, publik akan memperoleh hasil quick count pilpres 2019. Enam bulan sesudahnya, Indonesia akan memiliki presiden untuk periode hingga 2024. Membaca pertarungan menuju RI 1 2019, menjadi hal yang sangat menarik. Rivalitas menjadi yang teratas, tentu bisa membuat suhu menjadi panas.

Road to president sepertinya akan mengerucut menjadi head to head antara dua kubu. Setelah ada kecenderungan kubu Demokrat lebih mendekat dan merapat ke kubu PDI-P. Kontestasi tiga kubu, sepertinya sulit terjadi pada pilpres 2019. Kubu petahana dengan pendukung utama PDI-P telah memastikan kembali mengusung capres Joko Widodo. Mereka telah bisa fokus menata kekuatan setelah menjadi terdepan dalam penetapan capres.

Sementara rivalnya adalah kubu Prabowo Subianto dengan mesin penggerak utama Gerindra. Sinyal terkini, yang membuka wacana Prabowo Subianto bisa bukan sebagai capres, menjadi berita menarik, dan bisa mengubah kalkulasi rivalitas menuju pilpres 2019. Bahkan bisa jadi, nama diluar Prabowo sebagai capres dari kubu Prabowo, kian menajamkan dan memperjelas arah hasil pilpres 2019.

Banyak nama diluar Prabowo untuk diusung dari kubu Prabowo, tetapi satu nama yang tampaknya memiliki kekuatan keatas adalah Gatot Nurmantyo. Figur Gatot sepertinya memiliki resistensi yang minim di internal kubu Prabowo, figur yang akseptabel diantara parpol kubu Prabowo. Jejak rekam dan popularitas Gatot, sangat bisa menggoda pemilih yang ingin hal baru, mengingat figur Prabowo pernah tampil sebagai capres di pilpres lalu.

Jika Prabowo Subianto tampil sebagai king maker, dengan mendorong Gatot Nurmantyo, sepertinya sangat bisa menjadi anvantage bagi Gerindra dkk. Jika situasi seperti ini, figur Prabowo akan menjadi tokoh legowo yang hebat. Sementara figur kuat lainnya dikubu Prabowo, seperti TGB, Aher, Zulkifli Hasan dan Anis Baswedan bisa menjadi bagian timses untuk mendulang suara.

Persoalan kunci dikebanyakan kontestasi pemilihan adalah menjaga soliditas kekompakan internal kubu. Ini menjadi PR besar kubu Prabowo. Sementara kubu Jokowi sudah solid satu suara dalam pencapresan. Bisakah internal kubu Prabowo menanggalkan ego keparpolan? Tidak berkompetisi mengusung banyak figur untuk capres? Jika figur Gatot Nurmantyo yang tampil, maka capres Joko Widodo harus bekerja lebih keras, jika ingin merealisasikan moto salam dua periode.

MISTERI DALAM SHOLAT

Bisa jadi hanya sebagian muslim yang berpikir dan bertanya tanya, mengapa bacaan Fatihah saat dibaca secara sirr, baik sholat munfarid atau berjama’ah utamanya rokaat tiga dan empat, umumnya dibaca dengan cepat. Bahkan sering kita jumpai durasi membacanya super cepat hingga dibawah 20 detik. Berbeda saat dibaca dengan jahar, selalu dibaca tartil ayat per ayat hingga durasinya bisa dikisaran 40-60 detik.
Jika dikatakan sebagai sunah tentang perbedaan cara membaca demikian, sulit kita menemukan dalilnya dalam hadits shohih. Kita mungkin cukup berasumsi, bahwa saat dibaca jahar, bacaan Fatihah dibaca tartil ayat per ayat, dikarenakan terdengar oleh orang lain. Sedangkan saat dibaca secara sirr, Fatihah dibaca cepat bahkan sebagian cenderung super cepat dikarenakan tidak terdengar oleh orang lain.

Pertanyaan kita mungkin, mengapa hampir tidak ada imam atau kita saat munfarid, yang membaca Fatihah secara super cepat ketika sholat dibaca secara jahar? Kenapa dibaca super cepatnya selalu hanya saat dibaca sirr? Padahal andai membaca super cepat seperti saat dibaca sirr, dipraktekkan juga saat rokaat dibaca jahar, tentu banyak makmum yang mendengar dan bisa belajar cara membaca Fatihah dengan super cepat tetapi tetap benar secara ilmu tajwid.

Permasalahannya tentang bukan boleh atau tidak membaca super cepat Fatihah. Tetapi kita mengingat kepada hadits shohih, seorang pria yang sholat dengan cepatnya, terlihat oleh Nabi, disuruh ulang hingga empat kali. Dan Nabi menasehati agar mengerjakan sholat dengan tenang, tidak tergesa gesa dalam gerakan maupun bacaan. Juga pernyataan sahabat Hudzaifah r.a terhadap orang yang sholatnya tergesa gesa, bahwa orang tersebut tidak sholat dan jika wafat maka diluar sunah Nabi.

Juga seperti terkesan ambigu, ketika kita meyakini bahwa bahasa Qur’an begitu khas cara membacanya, hingga ketika diabaikan bacaan tasydid atau mengabaikan panjang pendek bacaan, maka bisa mengubah makna bacaan secara frontal. Super cepat membaca Fatihah tentu rentan dan berpotensi menyalahi kaidah ilmu tajwid. Membaca Fatihah atau ayat Qur’an lainnya yang mendekati benar dan baik, adalah ketika cara membacanya secara tartil ayat per ayat. Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi. Jika mengerjakan sholat secara tuma’ninah perlu waktu lebih lama 1-2 menit dibanding sholat dengan cepatnya, apakah kita menjadi rugi secara waktu dan tenaga? Bukankah kita ingin memperoleh ridho Allah dengan mengikuti contoh dari Nabi?

#Sholat_tumaninah#Baca_Fatihah_tartil

PILKADA 2018 : GENDERANG PERANG SANG PEMENANG

Hitung mundur 90 hari kedepan, ruang publik akan dibisingkan oleh gelegar politik yang meriuhkan semesta Indonesia. Suksesi kepemimpinan daerah memang amanat konstitusi, agar kekuasaan dapat berestafet secara demokrasi. 

Akan ada polarisasi kekuatan politik dalam pertarungan head to head. Aliran dukung mendukung pun akan berarus bermuara kepada para kandidat. Keriuhan akan memeriahkan pesta berdemokrasi di 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kotamadya.

Publik memang akan terbelah tapi bukan terpecah. Saling berkubu tapi bukan untuk beradu. Rivalitas dalam kualitas bukan melulu kuantitas. Ini memang realita takdir politik. Hingga pada 27 Juni 2018, ketika rakyat menjadi hakim tertinggi, dalam sidang Indonesia Pilkada. Pasca pilkada, sejatinya kita kembali dalam keIndonesiaan bhinneka tunggal ika. 

Usah gagah karena suara melimpah, usah merasa rendah bila pun kalah. Amarah harus punah, agar dendam bisa diredam. Karena siapa pun yang terpilih pada saatnya, dia adalah bukan pemimpin saya, bukan pemimpin anda, bukan pemimpin mereka, tetapi pemimpin kita bersama.

Kelak tangan kembali saling berjabat, silaturahmi kembali direkat, maaf untuk segala hujat kata mengumpat, jarak harus kembali dekat, ikrar pun dibuat dalam sepakat. Doa pun kita panjat, semoga pejabat kita bermartabat, agar rakyat makmur dan kuat.