MEDIA SOSIAL SEBUAH KEKUATAN ZAMAN

Kurun waktu satu dasa warsa belakangan ini, kehadiran media sosial di ruang kehidupan telah membuat pergerakan informasi seolah berlari lebih cepat dari dorongan waktu yang melaju. Media sosial yang belakangan muncul, kini berlari lebih cepat dan lebih didepan dibanding media cetak dan elektronik, yang nota bene lebih dahulu melesat dari garis start perlombaan informasi.

Like and dislike, media sosial telah menjelma menjadi sarana informasi yang begitu populer dan powerfull. Media sosial seolah kekuatan informasi yang tak lagi dibatasi oleh delay, dan memiliki keunggulan independensi di ruang informasi. Ketika ada kekuatan yang berupaya mengebiri media sosial, maka kekuatan global akan melindasnya. Ketika ada fihak yang bersikap apriori dengan eksistensi media sosial, maka dia akan ditenggelamkan oleh gelombang lautan informasi.

Jangan pernah berupaya untuk bersembunyi atau menaklukan kekuatan media sosial. Indera media sosial begitu peka dalam mendengar, tajam dalam melihat, sorotnya bisa menerangi ruang yang remang hingga bisa terlihat. Kini, momen dalam kehidupan tak lagi bisa disembunyikan. Karena setiap kita, bahkan bisa menjadi jurnalis independen disetiap saat untuk mengabarkan.

Ketika kata kata tak lagi bisa berdusta. Ketika kebohongan tak lagi bisa menutupi. Ketika rekayasa tak lagi bisa menjadi skenario. Ketika kata maaf tak lagi bisa untuk mengelabui. Ketika kecerdasan tak bisa lagi dibodohi. Maka, waktu pada saatnya akan menemukan kebenarannya. Maka berdiri, berjalan dan berbuatlah yang elegan di ruang kehidupan yang seolah tak lagi berbatas dinding.

Iklan

KISAH BOCAH LEMAH DI SARINAH

Asa bangsa yang masih bocah itu tiduran lemah, setelah seharian dan mungkin berhari hari ikut mencari nafkah, mengamen mencari kepingan dan lembaran rupiah, pada kawasan mewah sekitaran Sarinah.

Kemiskinan bisa membuat sebagian saudara kita mencari makan di jalanan. Tapi asa bangsa yang masih bocah ini tidak boleh dikorbankan. Ini ada dan cerita fakta, bagaimana mereka dan lalu dimana kita? Apa hanya air mata yang bercerita?

Sementara di langit kekuasaan Indonesia, pelangi kekuasaan berarak bergerak, membangun amanah untuk memerintah. Semoga, pelangi kekuasaan yang penuh warna, dapat membuat banyak asa bocah tak binasa. Semoga menjadi pelangi yang memberi arti, dan dapat mengakhri banyak kisah susah para bocah.

Kisah bocah di Sarinah ini adalah realita. Bahwa begitu banyak ada air mata disana. Ketika kita tak dapat membuat mereka tertawa, maka berilah asa dan doa agar mereka tak menangis dalam duka. Tuhan, jangan beri kami dosa karena kami insan yang tiada daya.

SANTAPAN TULISAN

Isu dan peristiwa yang telah menjadi menu harian dalam hidup dan kehidupan terkini, bisa menginspirasi kita untuk mengolah dan menggorengnya menjadi sebuah tema tulisan di medsos, untuk dihidangkan dan menjadi santapan bagi pemirsa, yang bisa mengenyangkan informasi bagi kita yang terkadang lapar dan haus akan pemberitaan dan informasi.

Tetapi jika kita kurang berhati hati dalam menyajikannya, menu postingan kita, bisa menjadi hidangan yang tidak menyehatkan, bahkan menjadi toksin yang merusak. Perlu sikap bijak dan kehati-hatian dalam memilih dan memilah bahan bahan yang ingin kita tuangkan dalam sebuah porsi tulisan, untuk disajikan di meja pemirsa.

Sehingga apa yang kita tulis tidak melintas batas, tidak melanggar pagar. Karena ada mata yang harus dijaga dari segala dosa. Pendengaran harus bisa mendengar suara kebaikan, bukan bisikan kemaksiatan. Bukankah lidah mudah digoda oleh fitnah gibah dan sumpah serapah.

Karena apa yang kita perbuat akan diingat dan dicatat. Dunia mungkin penuh dengan subyektifitas, sehingga kebenaran bisa menjadi batas yang bias. Nasehat dan pendapat terkadang menuai debat. Banyak yang ingin dan bisa kita tulis, seperti banyak pula yang ingin kita sampaikan. Tetapi ruang obyektivitas bisa begitu sempit dalam selembar kertas dan sebatang pena.

PEMIKIRAN YANG MENAFIKAN NORMA AGAMA

Jika kita menyaksikan tayangan televisi semisal ILC di TV One, yang menghadirkan nara sumber dari beragam latar, kita bisa mendengarkan cara pandang mereka terhadap suatu permasalahan, termasuk jika materi tayangan bertema yang memiliki keterkaitan dengan norma keagamaan.
Bagaimana ada yang melihat sebuah persoalan keduniaan yang tidak bisa dilepaskan dengan norma agama, karena memiliki ikatan dan kaitan dengan ajaran agama, tetapi mengukur dan menakarnya dengan lebih mengedepankan melihat dan berdasar prinsip keduniaan semata, hukum legal dunia, hak azasi, anti diskriminasi, pluralisme, kebebasan dan semisal itu.

Untuk sebuah kebebasaan berfikir dan berbicara, atas nama itulah manusia berpendapat dan memiliki cara pandang kehidupan, yang terkadang sama sekali menafikan norma keagamaan. Kebenaran hakiki apa yang kita yakini sebagai ajaran agama, memang akan terbukti dan dialami kelak di akhirat. Dan itu adalah sesuatu yang diyakini setiap individu, kecuali individu yang tidak mengimani eksistensi Tuhan.

Lindungilah pemikiran kita dari sentuhan dan pengaruh, yang menafikan dan memarginalkan ajaran dan kebenaran agama. Karena sekuat sehebat selama apa pun kita hidup di dunia, akan berakhir dan dibatasi oleh kematian. Dan kelak, ketika kita sebagai pesakitan di mahkamah akhirat, tidak akan dihukum berdasar palsafah atau konstitusi keduniaan. Tangisi dan renungi kehidupan dunia selagi hidup, atau menangis menyesali kehidupan sesudah kita mati.

MUSLIM BERTANYA, PENDETA SAIFUDDIN IBRAHIM MOHON MENJAWAB

** Tentang Kronologi Kelahiran Yesus 

Dalam khotbah pelayanannya yang dapat dilihat oleh publik di YouTube, Pendeta Saifuddin Ibrahim sering berbicara tentang Islam dan keislaman. Gaya bicaranya cenderung tendensius dan ‘menantang’ pertanyaan kepada muslim. 

Sebagai seorang muslim, saya terpanggil untuk bertanya tentang isi Injil yang sekarang diimani oleh pendeta ini. Semoga Saifuddin Ibrahim mau dan bisa menjawab keingintahuan saya, yaitu tentang kronologi kelahiran bayi Yesus dalam kitab Injil yang menurut saya kisahnya kontradiktif.

Menurut Injil Matius 2:1-23, Yesus lahir di Betlehem dengan ditandai munculnya bintang terang di langit timur. Karena tanda bintang itulah sekelompok orang Majus dari timur, datang ke Yerusalem ingin melihat bayi yang akan menjadi ‘raja’ umat Israel. Atas informasi orang Majus ini, raja Herodes penguasa atas Yerusalem di Yudea ini jadi tahu dan gusar maka berniat ingin membunuh bayi Yesus. 

Orang orang Majus berhasil menemui bayi Yesus di Betlehem. Atas petunjuk malaikat, orang Majus kembali ke daerahnya dan tidak menemui raja Herodes. Sementara atas petunjuk malaikat, malam itu juga orang tua Yesus mengungsikan bayi Yesus ke Mesir. Setelah tahu, raja Herodes marah besar, hingga memerintahkan agar semua bayi usia 2 tahun kebawah yang lahir di Betlehem Yerusalem dibunuh. Keluarga Yesus tinggal di Mesir sampai raja Herodes wafat digantikan oleh anaknya Arkhelaus. Barulah setelah itu bayi Yesus dibawa pulang oleh orang tuanya ke tempat asalnya dari Mesir ke Nazareth Galilea. Kisah ini ditulis oleh Matius agar tergenapi nubuat “terdengar suara tangisan di Rama” dan “kupanggil anakKu dari Mesir”.

Kronologi kisah ini sangat kontradiksi dan membingungkan jika dibandingkan dengan Injil Lukas 2:1-39. Karena selama 40 hari pertama sejak lahir, bayi Yesus dengan orangtuanya tetap tinggal di Betlehem dan Yerusalem. Usia 8 hari disunat, usia 40 hari diberkati didoakan di Bait Tuhan Yerusalem oleh imam Simeon dan Nabi Hana. Hingga semua orang tahu kelahiran bayi Yesus sang Mesias. Tapi anehnya, raja Herodes yang berkuasa atas Yerusalem tidak tahu. Bayi Yesus tetap aman dan tidak dibunuh dan tidak ada ancaman pembunuhan dari raja Herodes. Setelah 40 hari dan selesai upacara pemberkatan, bayi Yesus dibawa pulang ke Nazareth Galilea. Tidak ada kisah pengungsian ke Mesir.

Jelas, dua kronologi kisah kelahiran Yesus ini sangat membingungkan dan berbeda. Padahal kelahiran bayi Yesus adalah kejadian yang hanya satu. Mustahil kedua kisah ini benar semua, karena bercerita tentang satu kejadian. Pendeta Saifuddin Ibrahim tentu mengimani kitab Injil sebagai kitab suci, yang ditulis oleh penulisnya berdasar bimbingan ilham dan petunjuk dari Tuhan. Jadi mustahil kisah dalam kitab Injil keliru atau salah. Semoga Pendeta Saifuddin Ibrahim yang khotbahnya sering ‘menantang’ umat Islam, bisa menjawab dan menjelaskan dengan logika dan kecerdasan.

MENJAWAB MENGAPA NABI BERISTERI BANYAK

Sudah sangat biasa bagi umat Islam dengan pertanyaan ini. Malu dan risikah umat Islam? Tentu sangat tidak. Karena kecerdasan dan logika keimanan bisa menjelaskannya.

Karena hasrat bioligiskah? Isteri pertama Rosulullah SAW adalah umul mukminin, Khodijah ra, janda dengan usia 15 tahun lebih tua dari Nabi. Dari Khodijah ra, Nabi memiliki 6 orang anak. Dua puluh lima tahun kemudian, Khodijah ra wafat dan saat itu Nabi hanya beristerikan seorang Khodijah ra.
Setelah Khodijah ra wafat, Nabi menikah dengan beberapa wanita, yang sebagian besar adalah janda beranak. Dari seluruh isteri kemudian ini, hanya satu isteri saja yang melahirkan anak, tapi saat balita anak beliau wafat. Tentu ini rencana Allah. Jika karena hasrat bioligis, tentu isteri isteri Nabi yang terbukti subur, akan melahirkan banyak anak. Apalagi zaman itu belum ada alat kontrasepsi.
Mengapa Nabi menikah dengan umul mukminin Aisyah ra, yang sangat muda usia? Ini rencana Allah yang sangat disyukuri oleh umat Islam. Seluruh isteri isteri Nabi, wafat relatif tidak lama setelah Nabi wafat. Dan Aisyah ra, adalah satu diantara isteri yang terakhir wafat, hingga lebih setengah abad setelah kepergian Nabi.
Karena muda usia, Aisyah ra bisa hidup lebih lama, juga terbukti cerdas. Karena itu, banyak ilmu dan ajaran Islam yang bersumber dari Aisyah ra, yang tidak diketahui oleh para sahabat Nabi, tapi Aisyah ra mengetahuinya, karena sebagai isteri. Aisyah ra sempat mengajarkan ilmu keIslaman hingga setengah abad pasca wafat Nabi.

Banyak hukum dan ajaran Islam yang muncul, karena hikmah pernikahan Nabi dengan beberapa isteri, terutama tentang ajaran kehidupan rumah tangga, pernikahan juga perceraian. Hukum dan tata cara juga ijab kabul pernikahan perceraian, bukan reka cipta dari ulama Islam. Tapi hukum Islam tersebut memang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW saat masih hidup.

Apakah menikah dengan banyak isteri zaman itu menyalahi peraturan? Mudah tentu menjawabnya, tidak. Apakah seorang Nabi, salah menikah lebih dari satu wanita? Siapa yang bisa menghitung para isteri dari Nabi Sulaiman as. Berapa orang isteri isteri dari Nabi Ibrahim as, Ishak as, Yakub as, Musa atau Daud as?

Mengapa Nabi menikah dengan lebih 4 wanita, tapi umat Islam dibatasi hanya maksimal 4 dalam waktu bersamaan, itu pun dengan persyaratan? Karena ada hukum yang dikhususkan hanya untuk Nabi, tapi tidak untuk umatnya. Sholat tahajud malam wajib untuk Nabi, tapi tidak untuk umatnya. Dan keluarga juga keturunan Nabi tidak boleh menerima zakat. Tapi umat Islam lainnya boleh. Karena Allah maha tahu dan maha perencana.

Tentu saja, mendeskreditkan Islam, dengan dakwaan karena Nabi Muhammad SAW beristeri banyak. Atau Nabi seorang fedopil, sangat tidak bisa menggoyahkan keimanan seorang muslim. Karena seorang muslim didoktrin untuk meyakini Islam dengan logika kecerdasan keimanan, bukan percaya begitu saja dengan dogma keimanan.

MEMBANTAH PENDETA SAIFUDDIN IBRAHIMĀ 

ISLAM MENGAJARKAN KEKERASAN?

Jagat media sosial tengah diriuhkan diantaranya oleh banyak video dan postingan viral dari seorang pendeta Saifuddin Ibrahim, yang konon awalnya sebagai seorang muslim, tentu itu pilihan hidup dan hak asasi seseorang. Karena postingannya kerap berbicara tentang Islam dan keislaman, tentu sebagai Muslim kita berhak untuk mengklarifikasi atas apa yang dia sampaikan.

Dalam banyak ceramahnya dia berbicara, pilihan meninggalkan Islam karena Islam mengajarkan kekerasan dan pembunuhan, dia membawakan ayat ke 191 surat al-Baqarah. Tentu saja seorang muslim, bahkan yang awam pun sangat paham, bahwa ayat tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan Islam mengajarkan kekerasan apalagi membunuh seseorang. Karena ayat tersebut bersama ayat sebelumnya 190, menceritakan tentang peperangan yang dilakukan oleh umat Islam, dimana umat Islam harus membela diri dalam peperangan tersebut. Jadi konteksnya bukan ajaran perintah untuk membunuh atau melakukan kekerasan tanpa alasan atau sebab. 

Secara logika pun, tentu saja sebuah kemustahilan jika agama mengajarkan kekerasan atau membunuh. Kekerasan atau pembunuhan adalah keniscayaan dalam kehidupan, bisa terjadi dimana pun kapan pun dan oleh siapa pun.

Sejarah kelam kekerasan dalam peradaban tidak hanya monopoli komunitas satu agama. Sejarah dunia mencatat bagaimana kekerasan genosida pernah terjadi pada abad pertengahan, terhadap ribuan umat Islam di Spanyol yang dilakukan oleh bangsa Eropa ( inkuisisi ). Genosida juga pernah terjadi dengan korban ribuan umat Islam yang nota bene pelakunya umat non Islam pada tahun 1990an di Bosnia Herzegovina.

Saifudin Ibrahim juga mengatakan bahwa sejarah awal Islam penuh kekerasan dengan terjadinya 27 kali peperangan. Masa itu peperangan sesuatu yang bisa difahami terjadi dan adalah sebuah keniscayaan, karena Nabi lahir di wilayah yang tidak memiliki sistem aturan bernegara. Misi Nabi pun berdakwah mengajarkan menyembah kepada satu Tuhan, di tengah komunitas pagan yang menyembah banyak dewa.

Faktor-faktor itulah yang menyebabkan timbulnya peperangan yang tidak bisa dihindari. Tentu sangat berbeda dengan sejarah awal Kristen, dimana Yesus lahir di wilayah dengan sistem pemerintahan ( Romawi ). Dan di komunitas Bani Israil yang relatif telah memiliki ajaran agama menyembah kepada satu Tuhan, ajaran yang disampaikan oleh nabi Musa. Jelas konsekuensi berperang tidak mungkin dialami dalam dakwah Yesus saat itu. Saifuddin Ibrahim sangat paradoks, pada satu sisi nyinyir kepada Islam, karena katanya umat Islam susah payah jika ingin masuk surga, karena harus beramal baik sebanyak mungkin. Tapi disisi lain menuduh Islam mengajarkan kekerasan kepada umatnya. Tuduhan dan nyinyiran yang sangat standar ganda. 

Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya membunuh orang non muslim. Jika itu benar, tentu pendeta Saifuddin Ibrahim saat ini sudah tidak akan hidup segar bugar. Jika tuduhan Saifuddin Ibrahim benar, maka tidak akan ada warga Saudi Arabia yang non Islam bisa hidup di negara Saudi Arabia. Dan akan banyak masyarakat non muslim di Indonesia yang akan dibunuh oleh mayoritas muslim, misal di Aceh. Jadi nyinyiran dan tuduhan asbun dari pendeta Saifuddin Ibrahim, jelas sangat tidak cerdas dan sangat salah.